Tampilkan postingan dengan label Buku Lawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Lawas. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2018

Ditulis 10.00 oleh with 0 comment

Affandi Pelukis


Judul buku                : Affandi Pelukis
Penulis                      : Nasjah Djamin

Penerbit                    : Aqua Press Bandung
Tahun terbit              : 1979 (cetakan pertama: 1977)
Jumlah halaman       : 84

Nilai                          : 3 dari 5

Satu lagi buku yang masuk kategori “buku cerita” hasil proyek Depdikbud zaman Soeharto. Aku sebutkan di awal karena diam-diam out of nowhere buku ini menjejalkan pujian kepada Soeharto, presiden ketika itu, pada pertengahan buku di saat membicarakan Affandi. 

“Anak desa pun dapat jadi orang, asal rajin dan tekun belajar. Anak desa pun kelak dapat menjadi Menteri, jadi Jenderal, malah jadi Presiden. Seperti halnya Pak Harto, Presiden Negara Republik Indonesia kita yang sekarang!” (Djamin, 1979:44).

Dan, lagi-lagi tipe karangan buku ini persis seperti buku cerita lain yang sudah kuulas sebelumnya di blog ini: Ada sub-plot tokoh utama abal-abal dibangun menuju tokoh utama sebenarnya, dalam hal ini Affandi, namun sub-plot ini posisinya kurang penting walau bukannya tidak relevan atau tidak relatable. Karena setidaknya tokoh sub-plot ini punya latar dan kepribadian.

Pada mulanya kita diperkenalkan kepada seorang anak petani yang masih duduk di kelas 6 SD bernama Agus. Dia tinggal di desa Besi (baca: mbesi) di sekitaran Jalan Kaliurang Yogyakarta. Bakat menggambarnya mengagumkan sehingga suatu kali gurunya memujinya bahwa dia bisa seterkenal Affandi sang pelukis. Dari situ rasa penasaran dan kagum Agus kepada Affandi tumbuh.

Suatu hari pamannya (yang tanpa nama) datang, dia mengajak Agus berkunjung ke Museum Affandi berboncengan naik sepeda motor butut. Setidaknya kita mendapat gambaran seperti apa suasana Jogja akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an (buku ini pertama kali terbit 1977) yang terasa sangat syahdu: kala itu penduduk desa naik cikar (gerobak sapi) ke kota untuk plesiran, jika tidak ya naik bus atau colt yang mulai banyak mondar-mandir dari Yogyakarta-Kaliurang (Djamin, 1979:19). Pemandangan yang sudah lenyap hari ini.

Tapi sayang eh sayang museumnya sedang tutup karena Pak Affandi sedang pergi melukis di Bali. Tuh kan sub-plotnya bertele-tele. Kunjungan dibatalkan, mereka kemudian berbelok ke kos-kosan (disebut pondokan) si Paman dan bertemu dengan [Jeng] Juminten, teman (pacar?) Si Paman. Dia adalah seorang pengarang amatir yang secara kebetulan sedang menulis tentang Affandi. Draf tulisan berjudul “Pelukis Besar Affandi” ini kemudian dibaca oleh Agus (alias kita) dan baru muncul di halaman 33 (hingga 78) dari total 84 halaman!

Membaca draf tulisan Juminten bagai membaca biografi a la Wikipedia. Ringkas, padat, dan seolah tidak ada penyuntingan atas tata kalimat, bahkan urutan peristiwanya meloncat-loncat. Sehingga terbitlah kecurigaanku bahwa draf tulisan ini memang tulisannya ‘Juminten’ sungguhan (maksudnya Juminten benar-benar ada). Mungkin dia temannya Djamin, penulis buku ini.

Inti cerita kurang lebih berkutat pada kerasnya hidup yang dijalani Affandi hingga sukses dikenal sebagai pelukis tetapi tetap bersahaja. Kita diperkenalkan pada masa kecil Affandi yang sudah hobi menggambar. Ayah dan saudara-saudaranya memang menentang hasrat melukis Affandi tersebut, namun dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa menghidupi diri, anak, dan istrinya dari hasil melukis setahap demi setahap. Mulanya tentu tidak mudah, sekolah sengaja dia tinggalkan, pekerjaannya pun serabutan, mulai dari guru, tukang cat, penggambar poster reklame, sampai penjaga pintu bioskop sambil terus melukis meskipun tidak kunjung laku.

Keinginannya untuk belajar melukis di sekolah khusus gambar tidak pernah kesampaian. Sempat dia ingin berguru kepada Basuki Abdullah tetapi pelukis terkenal itu tidak berkenan. Affandi kemudian bergabung di Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang terdiri dari pelukis-pelukis yang tidak diakui oleh Belanda karena mereka hanya pelukis otodidak.

Di masa pendudukan Jepang, Affandi bergabung dengan PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) lalu ikut pula dalam SIM (Seniman Muda Indonesia). Di sana dia mulai melukis keadaan rakyat yang melarat dan menderita: romusha yang tubuhnya kurus kering, gelandangan, kuda andong yang kurus, pedagang pasar yang dekil. Dia juga maju ke medan perang untuk melukis suasana pertempuran.

Ketika agresi militer Belanda pecah, Affandi sekeluarga mengungsi ke Jakarta. Di kota yang diduduki Belanda dia tinggal di sebuah garasi di Perguruan Taman Siswa, satu dari wilayah RI di Jakarta selain Gedung Proklamasi (data sejarah bung! RI masih punya wilayah di tengah kekuasaan Belanda). Di situlah dia berjumpa dan melukis Chairil Anwar.

Sesudah kemerdekaan Affandi mendapat beasiswa di sebuah sekolah seni di India. Begitu sampai pihak kampus menilai bahwa kemampuan Affandi sudah sempurna sehingga tidak perlu sekolah lagi. Dia memutuskan untuk berkeliling kota-kota India lanjut ke Eropa sambil terus melukis. Dari sini namanya mulai dikenal publik.

Sekembalinya ke Indonesia, dia ditawari mengajar di ASRI Yogyakarta dan berpameran di Jepang, Brasil, Meksiko, dan Amerika. Di negara yang disebut terakhir ini dia sempat menjadi profesor di Ohio State University. Dari hasil menjual lukisannya dia membangun Museum Affandi di tepi kali Gajahwong. Seperti tema yang senantiasa berulang: kesusahan, keterlunta-luntaan, dan kehinaan yang dialami tokoh utama pun berbuah manis. SELESAI.

Seusai membaca draf tulisan Jum, Si Agus bertandang ke Museum Affandi dan menyimak deskripsi beberapa lukisan via mulut pamannya dan Mbak Jum. Tentu tidak lupa untuk bertemu langsung dengan idolanya tersebut dan mendapat wejangan: “Yang rajin belajar seperti kakek ini. Sudah tua masih belajar, dan ingin belajar terus!”

halaman terakhir yang berisi pesan Affandi kepada kita
Iya, iya. Agus harus rajin belajar sampai tua. KITA pun harus terus belajar sampai tua.
Read More
      edit

Minggu, 23 Desember 2018

Ditulis 21.07 oleh with 0 comment

Dongeng dongeng Nusantara


Judul buku                : Dongeng dongeng Nusantara
Penulis                      : Rahmani Rauf

Penerbit                    : CV Rian Utama Jakarta
Tahun terbit              : 1995
Jumlah halaman       : 60
Ilustrasi                    : -

Nilai                          : 3 dari 5

Satu lagi buku proyek Depdikbud, kali ini buah Inpres tahun 1984 namun terbitan 1995(!). Tulisan Rahmani Rauf mengalir lancar, terasa agak terburu-buru, tapi masih enak dibaca. Apakah dia ini Siti Rahmani Rauf penggagas model pengajaran “ini Budi” di buku pelajaran anak SD pada 90-an yang termasyur itu? Bisa jadi. Kita belum tahu pasti.

Aroma saduran dari lima dongeng yang dirangkai di buku ini sangat jelas kentara. Saduran ini seolah sengaja menghilangkan jejak asal dongeng dengan mengganti nama tokoh dan wilayah menjadi lebih berbau dongeng (baca: antah berantah). Adakah lewat keantah-berantahan ini muatan moral diharapkan lebih menonjol dibanding muatan lokalnya?

Kecuali “Rawang Si Takuluk,” menceritakan seorang anak durhaka kepada ibunya yang mengindikasikan lokasi ada di Sumatera Barat dan “Sejuta Kunang-Kunang di Puncak Kalapacung” berkisah tentang seorang anak yang dibuang ibu tirinya yang mungkin berlatar di Purbalingga, tiga lainnya sangat berlatar antah berantah.

Misalnya, ada raja bernama Basidu dan anaknya Pangeran Bagebu dari sebuah kerajaan tanpa nama dalam “Kota Yang Dikutuk,” atau baginda Tuanku Raja Di Atas dengan anaknya Pangeran Mirza dari lagi-lagi kerajaan tanpa nama dalam “Batu Menangis.” Kedua dongeng sama-sama bercerita tentang seorang pangeran yang terasing jauh dari negerinya dan kembali untuk merengkuh apa yang menjadi haknya: menjadi raja yang adil bijaksana.

Uniknya, satu dongeng berjudul “Namanya Hibrida” tidak bernarasi layaknya dongeng. Berkisah tentang Si ‘Ibu’ Pohon Kelapa Hibrida yang memaparkan kepada ‘anak-anaknya’ (yaitu buah-buah kelapa) mengenai asal usul kelapa hibrida secara SAINTIFIK, cerita ini mungkin satu-satunya karangan orisinal Rauf tanpa meminjam teks dongeng lain yang telah mapan. Bukan saja agak berbau program pertanian/perkebunan pemerintah tapi ia hadir bak anomali menyeruak di tengah-tengah kumpulan dongeng. Buatku ketika masih kecil ‘dongeng’ ini sangatlah aneh. Gak seru, gak imajinatif. Namun justru jadi menarik buatku sekarang sebab hal semacam ini amat lumrah di zaman Soeharto. Apakah dongeng ini pesanan pihak tertentu?

Apakah sebuah cerita dapat menjadi “dongeng” hanya dengan membuat tokohnya yang bukan manusia bisa berbicara meski secara narasi tidak terasa seperti dongeng seperti buah kelapa di "Namanya Hibrida" ini?
Read More
      edit

Rabu, 21 November 2018

Ditulis 16.42 oleh with 6 comments

Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal


Judul buku                : Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal
Penulis                      : Dj. Hasugian

Penerbit                    : CV Rosda Karya Bandung
Tahun terbit              : 1982 (cetakan pertama: 1981)
Jumlah halaman       : 58
Ilustrasi                    : Asmadi

Nilai                          : 3 dari 5


Buku cerita ini sebetulnya punya liku kisah menarik. Hanya saja gaya penyampaiannya agak tipikal buku anak-anak masa itu (1980-1990-an) yang memang menjadi target pembacanya (salah satunya aku ketika masih kecil). Gaya bercerita yang kumaksud adalah dengan menempatkan pembaca sebagai pengamat/penonton atas tokoh utama sebenarnya yang dijadikan suri-tauladan.


Tokoh yang mulanya diperkenalkan kepada pembaca adalah Kamal, seorang anak berprestasi tinggi. Catatan: Kamal adalah kita, di mana kita diharapkan mengidentifikasikan diri dengannya agar hendaknya kita berprestasi juga (?). Itulah sebabnya Kamal dijanjikan oleh ayahnya diantar ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan teman ayahnya yang luar biasa sukses, Pak Gono agar dia (baca:kita) bisa mendengar kisah suksesnya.

Pada pertemuan Kamal dengan Pak Gono inilah terjadi peralihan tokoh utama dari Kamal ke Gono muda. Layaknya perpindahan lari estafet kepada pelari yang lebih jago daripada pelari sebelumnya, kisah Pak Gono semasa muda menderu seru kaya petualangan tidak seperti Kamal yang super-bland, kaku, dan tidak menarik.

Pola cerita dengan model semacam ini mungkin hanya akrab buat anak-anak yang tumbuh di masa 1980-1990-an. Sebagian buku cerita yang kuulas di blog ini juga punya pola serupa. Pembaca harus selalu menengadahkan kepala memandang kagum ketika orang yang ada di atas itu memberimu wejangan. Iya, aku sedang menudingmu Mbah Harto!

Diangkat dari kisah nyata Gono Tirtowidjojo, seorang pengusaha ekspedisi kapal, yang belakangan aku baru tahu kisahnya pernah difilmkan dengan judul Mustika Ibu dan dibintangi Dedy Sutomo, buku ini berfokus pada hardship-nya Gono muda. Perjuangan penuh derita Gono diceritakan cepat tanpa basa-basi jika tidak mau dibilang terburu-buru, mulai dari dibuang keluarganya, merantau ke berbagai kota, bergonta-ganti profesi, ikut perang kemerdekaan, sampai dia sukses menjadi pengusaha.

Gono adalah seorang putra Sunda asli yang dipungut keluarga Cina (maksudnya Tionghoa). Ibu kandungnya yang miskin menjual Gono ketika masih bayi karena tidak kuat merawatnya.

Hidup sebagai anak pungut membuat Gono menderita lahir batin akibat siksaan orang tua angkat. Dari seorang tukang bajigur Gono mengetahui mengenai ibu kandungnya. Dia pun menemui ibu kandungnya lalu bertekad merantau ke Batavia untuk merubah nasib, pergi dari keluarga yang telah membesarkannya.

Di Batavia dia kerja serabutan dan hidup menggelandang. Sesudah bekerja menjadi kuli panggul beberapa saat. Dia diajak bekerja di sebuah toko di Lampung oleh seorang pedagang tembakau.

Sewaktu Perang Aisa Timur Raya pecah, Jepang memasuki Indonesia menggantikan Belanda. Jepang merekrut banyak tenaga untuk keperluan perang. Salah satunya Gono yang bekerja pada dinas pelayaran Jepang di mana karirnya melejit cepat.

Menyerahnya Jepang dalam perang membuat Belanda kembali ke Indonesia. Dengan keahlian nahkodanya Gono menjadi seorang penyelundup senjata bagi para pejuang kemerdekaan. Dia lalu bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat sampai dalam sebuah pertempuran dia tertangkap dan disiksa oleh Belanda supaya mau memberitahukan posisi TKR, namun Gono tetap bertahan.

Pada suatu waktu Gono berhasil meloloskan diri. Akibat siksaan yang dialaminya Gono menderita sakit yang membuatnya tidak bisa ikut berjuang lagi hingga perang usai. Selepas perang Gono memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang perkapalan untuk membangun usaha ekspedisi kapal muatan. Usahanya maju mengalami pasang surut.

Suatu hari dia ditawari untuk membeli sebuah kapal yang terbenam di dasar laut Surabaya. Yang mengejutkan Gono adalah nama kapal itu sama dengan nama kapal yang dilihat di mimpinya: Kota Silat. Percaya bahwa ini suatu pertanda, dia membeli dan memperbaiki kapal itu. Dan pada pelayaran pertamanya menuju Jakarta dia sendiri yang menjadi nahkodanya.

Kapal pertamanya tersebut membawa keberuntungan. Dari satu kapal kini Gono memiliki 12 kapal lain. Usahanya sukses, dia kaya raya, dan menerima penghargaan dari gubernur Jakarta dan presiden. Cerita ditutup dengan Kamal yang bangun keesokan harinya bersiap untuk melihat dok kapal Pak Gono.

Cukup mengasyikkan ya kisahnya. Sayangnya ya itu terasa disingkat-singkat. Memang sih kisah sukses di atas memang sangat klise, klasik, dan serba sudah diduga. Tipikal cerita “sengsara membawa nikmat.” Model cerita yang ngetren kala itu, tidak seperti sinetron sekarang yang serba hedonisme. Kenapa? Gak tau ya. Mungkin karena rata-rata rakyat Indonesia ketika itu memang hidup kekurangan (kayak sekarang enggak aja).

Kalau ada yang menarik bagiku adalah upaya si narator kisah (yaitu Pak Gono) mengelak/menampik/menyangkal ke-Tionghoa-annya. Entah memang Gono sendiri yang menuturkan kepada penulis (Dj Hasugian) bahwa dia bukan Tionghoa atau adakah masyarakat saat itu diam-diam anti Tionghoa?

Read More
      edit

Rabu, 07 November 2018

Ditulis 20.00 oleh with 0 comment

Husein Pahlawan dan Syahid Besar



Judul buku                : Husein, Pahlawan dan Syahid Besar
Penulis                      : Nawawi Rambe (penyadur) dari Husain The Great Martyr (Fazl Ahmad)

Penerbit                    : Depdikbud, PT Bumi Restu (Percetakan)
Tahun terbit              : 1985 (cetakan pertama: 1982)
Jumlah halaman       : 70

Nilai                          : 3 dari 5


Buatku cukup aneh juga ketika hari ini kaum Syiah terus dianggap sesat dan disudutkan oleh mayoritas penganut Islam Sunni tanpa kecuali di Indonesia, namun melupakan kenyataan bahwa pernah terbit buku cerita buah proyek pengadaan buku Depdikbud di mana ia mengisahkan betapa heroiknya kematian Husein bin Ali bin Abu Thalib.

Husein memang cucu nabi Muhammad—tokoh yang dihormati kalangan Sunni—tapi dia juga imam Syiah yang berperan penting dalam haluan teologi Syiah. Aliran Islam yang dicap sesat oleh sebagian penganut Sunni. Mungkin karena khawatir akan ke-syiah-an tersebut. Terdapat upaya tersurat untuk lebih menghubung-hubungkan perjuangan Husein dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia (via jalur militer?) di bagian prakata.

“Kerelaan Husein mengorbankan segala-galanya, telah mengangkat martabatnya sebagai pribadi yang luhur, sebagai teladan dan lambang kebenaran dalam perjuangan abadi melawan kezaliman…tokoh-tokoh pejuang demikian ini banyak pula terdapat di persada tanah air kita, terutama pada masa puncak perjuangan merebut kemerdekaan Negara Indonesia tercinta.”

Kurasa buku ini dibeginikan karena posisinya yang tak lain adalah saduran dari buku lain berjudul Husain The Great Martyr karya Fazl Ahmad yang kita—aku tidak tahu seperti apa isinya. Sehingga ketokohan Husein di buku ini barangkali direduksi oleh penyadur/penulis Nawawi Rambe ke dalam bingkai perjuangannya atas suatu cita-cita yang “setara” dengan perjuangan rakyat Indonesia dan karenanya layak menjadi teladan generasi muda Islam di masa pembangunan (soal pembangunan ini disebut pada prakata).

Tapi jika ada satu yang memikat dari buku ini bagi pembaca kiranya adalah universalitas nilai heroisme, terlepas dari dia itu golongan Sunni atau Syiah. Kita jelas melihat betapa kesyahidan (kemartiran) seseorang  dirayakan melintasi latar sejarah, budaya, bangsa, negara, dan agama.

Alur buku cerita ini persis sama dengan narasi umum pertempuran di Karbala (battle of Karbala) yang bermula dari permusuhan antara pendukung Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan terkait kebijakan khalifah Usman bin Affan yang dinilai oleh Ali terlalu bersifat kekeluargaan.

Naiknya Yazid sebagai khalifah menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam. Selain karena statusnya yang adalah putra Muawiyah (khalifah sesudah Hasan bin Ali mengundurkan diri), watak Yazid yang gemar berfoya-foya menjadi pangkal penyebabnya. Ketika Yazid menuntut sumpah setia Husein kepadanya, Husein menolak dan melarikan diri ke Mekkah.

Dukungan dari penduduk Kufah (Irak) agar Husein menjatuhkan Yazid mengalir deras. Husein beserta pengikutnya pun berangkat ke Kufah dari Mekkah meski mendapat tentangan dari sahabat-sahabatnya. Mendengar ini gubernur Ibnu Ziad menyiapkan pasukan untuk menghadang rombongan Husein.

Di padang Karbala, pergerakan rombongan Husein ditahan oleh pasukan Al-Hurr. Mereka tidak diizinkan melanjutkan maupun kembali ke Mekkah. Perundingan yang ditawarkan Husein dengan diperantarai Umar bin Saad ditolak Ibnu Ziad. Umar bin Saad yang diperintahkan menggempur rombongan Husein menawarkan agar Husein menyerah tanpa syarat. Husein meminta waktu hingga keesokan harinya.

Malam itu Husein menyampaikan kepada pengikutnya bahwa mereka boleh pulang demi menghindari peperangan yang tak terelakkan. Tidak satupun dari mereka mundur. Mereka lalu menghabiskan malam dengan berdoa bersiap untuk esok hari.

Tepat pagi hari 10 Muharram pertempuran sengit pecah. Pasukan Al-Hurr yang semula berada di pihak Ibnu Ziad menyebrang ke pihak Husein. Husein dan pengikutnya yang kalah jumlah bisa memberi perlawanan gigih hingga tengah hari di mana mereka semua pada akhirnya gugur.

Tragedi ini memicu serangkaian peristiwa saling balas antara kedua pendukung masing-masing pihak. Disebutkan secara ringkas bahwa Khalifah Yazid meninggal dalam keadaan depresi, Umar bin Saad tewas dibunuh, Syimar yang menamatkan Husein mati mengenaskan, Gubernur Ibnu Ziad mati dipenggal. Sementara nama Husein abadi sebagai pahlawan.
Read More
      edit

Minggu, 04 November 2018

Ditulis 20.52 oleh with 2 comments

Aku Diterjunkan di Irian Jaya


Judul buku                : Aku Diterjunkan di Irian Jaya
Penulis                      : A. Soeroto

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1974
Jumlah halaman       : 52
Gambar oleh             : C.Z. Dupe

Nilai                          : 3 dari 5

Buku ini lagi-lagi seperti sejumlah postingan di blog ini adalah bacaan dari masa kecilku. Jumlah halamannya hanya 50-an. Paslah untuk anak-anak yang baru mulai keranjingan membaca. Lagipula alur ceritanya mudah dipahami, liniear, cukup seru dan menegangkan buatku ketika itu. Meski sebenarnya kalau dibaca lagi sekarang cerita dalam buku ini boleh dibilang terlalu sederhana dan minim detail.

Mengisahkan mengenai pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Kita dibawa menyimak langsung pengalaman dari sudut pandang si “aku,” seorang prajurit muda bernama Gus (Agus?), dengan gaya penyampaian mirip diari atau jurnal perang.

Cerita diawali dari Gus dan kawannya sesama prajurit yang dipersiapkan di sebuah lokasi di dekat kota Ambon untuk dikirim ke Irian Barat (begitulah penyebutannya, bukan Papua) guna berkonfrontasi lawan Belanda. Suatu malam mereka diberangkatkan dengan menumpangi pesawat Hercules di atas langit Irian. Dalam gelap semua prajurit diterjun-payungkan. Sialnya beberapa kawan mereka ditembaki Belanda dari bawah.

Gus mendarat dengan selamat, namun dia pingsan. Payung Gus ternyata menyangkut di sebuah pohon yang sangat tinggi. Setelah berhasil turun dia menyusuri pekatnya hutan ke arah utara sesuai perintah atasannya. Dia pun bertemu dengan kawan-kawannya. Mereka sepakat untuk tidak meneruskan ke utara, melainkan ke arah pantai.


Pihak Belanda menjadi musuh yang hadir tanpa wajah
Sempat lolos dari sergapan pasukan Belanda, mereka terus menembus hutan hingga berhari-hari. Letih, kehabisan bekal dan amunisi mereka secara kebetulan menjumpai penduduk lokal dan memintanya menunjukkan jalan perkampungannya.

Di perkampungan itu mereka berjumpa dengan kawan-kawan prajurit yang telah lebih dahulu bernaung di sana. Mereka semua diterima dengan baik oleh penduduk kampung. Hingga kemudian memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke pantai.

Dengan dipandu salah seorang penduduk para prajurit itu menuju pantai. Belum jauh mereka segera menemukan selebaran yang menerakan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda serta akan adanya penyerahan Irian asalkan memang rakyat Irian sendiri yang memintanya (refenrendum?).

Awalnya mereka curiga bahwa selebaran ini hanya tipuan Belanda. Tetapi setelah salah seorang dari mereka mencari kabar ke Kaimana terbukti bahwa edaran tersebut memang benar adanya. Mereka semua pun gembira dengan kemenangan ini dan bersiap meninggalkan Irian. Sudah begitu saja. Cerita berakhir di sini. Cukup sederhana kan?

Namun, justru di situlah yang menarik. Buku ini sama sekali absen dari intrik politik dibalik upaya merebut Irian Barat. Bahkan abai pada dimensi kepentingan yang lebih besar, siapa inisiator (Soekarno), siapa komandannya (Soeharto), apa kepentingan misi ini.


Penduduk Irian digambarkan sangat terbelakang. Yang meski ramah dan hangat membuat para prajurit tidak betah berlama-lama menetap di kampung mereka

Karakter si tokoh utama, Gus, terasa sangat naif dan lugu. Gus dan kawan-kawan sesama prajurit di cerita ini tampak tidak tahu apa yang mereka harus perbuat (no idea, no clue istilahnya), atau apa sebenarnya misi mereka. Di dalam buku hanya diindikasikan bahwa mereka di situ hanya untuk membuat pihak Belanda cemas.

Adakah kenaifan tersebut disengaja oleh penulis karena buku ini ditujukan untuk anak-anak? Mungkin saja kurasa.

Bagiku sungguh menggelitik karena petualangan yang dialami Gus dan kawan-kawannya sangat jauh dari heroisme ideal atau patriotisme berapi-api bela negeri. Gus dan kawan-kawannya tampak sangat manusiawi: mereka merasakan keraguan, kebingungan, dan ketakutan menghadapai dua musuh sekaligus: hutan rimba dan Belanda yang mengintai dari kerimbunan. Pendeknya, buku ini adalah cerita kecil mengenai prajurit kecil di tengah masalah besar.

Jika apa yang ada di dalam cerita ini adalah gambaran akurat dan otentik mengenai peristiwa di Irian (Papua) yang sebenarnya. Maka buku ini perlu menjadi dokumen sejarah alternatif untuk  menyibak apa sebenarnya yang terjadi ketika itu di mata prajurit berpangkat rendah. Bahwa peristiwa sejarah dan militeristik nyatanya bukan soal patriotisme semata tapi juga bagaimana menjadi manusia biasa.
Read More
      edit

Senin, 15 Oktober 2018

Ditulis 15.11 oleh with 0 comment

Cikal Bakal Bani Israil


Judul buku                : Cikal Bakal Bani Israil (Father of Israel)
Penulis & ilustrator  : Ibnu Nouval & Saifullah
ISBN                        : -

Penerbit                    : PT Bina Ilmu, Surabaya (Proyek Pengadaan Buku Perpustakaan Dikmenum)
Tahun terbit              : 1985
Jumlah halaman        : 48

Nilai                          : 3 dari 5

Barangkali cukup aneh kalau saat ini, di tengah sentimen anti-asing (baca: xenofobia) yang melanda Indonesia, pernah terbit buku yang disponsori Depdikbud bertema bangsa Israel. Bangsa yang secara teologis dibenci dan diniscayakan menjadi musuh oleh umat Islam. Tidak terkecuali di Indonesia (ataukah terutama di Indonesia?).

Itu sebabnya sewaktu aku masih kecil aku sempat dilanda kebingungan. Apakah Israel yang ada di buku ini adalah orang baiknya (the good guys), berlawanan dengan yang kudengar selama ini. Era 1990-an, masa di mana aku dibacakan (oleh Ibu) dan membaca buku ini, berita di TVRI juga sudah sering mengantagoniskan [negara] Israel atas Palestina.

Adakah toleransi di masa 1980-an jauh lebih baik dari saat ini atau kesadaran identitas agama belum sebegitu meruncing? Mungkin memang benar bahwa reformasi 1998 memberi pengaruh besar terhadap pola pikir rakyat Indonesia akibat longsornya Soeharto. Sekurangnya, seingatku, sentimen anti-Israel sudah dimulai di sejumlah majalah “islami” bawah tanah menjelang akhir 90-an.

Kurasa karena kebencian buta inilah yang membuat kisah [nabi] Yakub tidak akrab di telinga orang beragama Islam. Di situlah peran buku ini.

Buku Cikal Bakal Bani Israil ini menceritakan asal usul bangsa Israel (bani Israil). Di awali dari kelahiran Ishaq (Ishak) putra Ibrahim dengan Sarah. Ishaq menikahi Rifqah dan dikarunia dua putra kembar yang diberi nama Yakub dan Ishu. Namun Rifqah sangat pilih kasih. Dia lebih menyayangi Yakub yang lantas menyemai dengki dalam hati Ishu.

Yakub menyadarinya. Dia kemudian meminta nasehat Ishaq, ayahnya. Sang ayah menyarankan Yakub menyingkir ke negeri Faddan Araam, ke rumah pamannya yang bernama Laban untuk menikahi salah satu dari dua putrinya. Yakub menerima perintah itu dengan taat.

Dari sini petualangannya dimulai. Dan inilah momen yang paling kuingat dari buku ini. Yakub mendapat gelar “Israil” karena dia menempuh perjalanan dari Syam (Palestina) menuju Faddan Araam (di Irak) pada malam hari dengan berjalan kaki, mengunakan bintang-bintang sebagai pedoman arah. Israil artinya adalah orang yang berjalan di malam hari. Ketika siang datang dan sinar matahari mulai memanas, Yakub beristirahat di bawah naungan bongkahan batu besar. Kemudian dia melanjutkan perjalanan di kala gelap. Begitu seterusnya hingga dia tiba di rumah pamannya.


Ilustrasi garapan Saifullah sangat bergaya "luar" yang mana aku suka
Setelah bertemu pamannya, Yakub menyampaikan maksud untuk menikahi salah satu putri pamannya. Pamannya (Laban) menyetujuinya asal Yakub bersedia menggembala biri-biri mereka sebagai mahar perkawinan selama tujuh tahun ke depan. Iya, benar. Tujuh tahun demi seorang gadis!

Sesudah tujuh tahun berlalu, Laban memenuhi janji. Yakub dinikahkan dengan putri pertamanya, Laya. Tetapi Yakub menyampaikan bahwa dia sebenarnya berharap dinikahkan dengan Rahil (adik Laya) yang lebih cantik. Laban mengerti namun adat memang melarang seorang adik menikah mendahului kakaknya. Untuk itu Yakub harus menggembala biri-biri [lagi] selama tujuh tahun [lagi] jika mau mempersunting Rahil. Yakub menyanggupi.

Untuk tujuh tahun kemudian Yakub menjalani karir sebagai gembala dengan sabar. Setelah total 14 tahun dia akhirnya bisa menikahi Rahil, perempuan impiannya. Bayangkan! 14 tahun! Malu hukumnya kalau kamu sudah menyerah hanya dalam hitungan hari.

Jadi hikmahnya adalah, selain pantang mengeluh, ada baiknya kamu tidak minta secara spesifik anak orang mana yang akan kamu persunting. Siapa tahu nasibmu semujur Yakub. Sebab bukan hanya dia beristri dua bersaudari. Yakub juga menikahi dua pelayan mereka, Zulfah dan Balhah.


Tampil dwi bahasa (Indonesia dan Inggris). Yang kalau dicermati, bahasa Inggrisnya cukup alakadarnya. Mungkin dimaksudkan sebagai sarana belajar bahasa Inggris.

Dari empat istri ini lahirlah dua belas anak yang dikenal dengan nama Bani Israil. Dua di antaranya adalah Yusuf dan Bunyamin (anak Yakub dengan Rahil). Meninggalnya Rahil, membuat Yakub—lagi-lagi seperti ibunya dahulu—lebih menyayangi keduanya yang kelak berujung pada dibuangnya Yusuf oleh saudara-saudaranya yang lain akibat dengki hati.

Di sinilah buku ditutup dengan “bersambung pada buku Yusuf dan Saudara-saudaranya.” Cerita yang sudah terlalu akrab rasanya di telinga orang Islam. Yang mana mencuatkan pertanyaan, mengapa kisah Yusuf lebih populer daripada Yakub bapaknya? Padahal keduanya sama-sama diidentifikasikan sebagai bani Israil? Hmmm…
Read More
      edit

Jumat, 04 September 2015

Ditulis 05.06 oleh with 0 comment

Kendil Ajaib


Komik tipis ini mengandung pesan moral yang nyaris selalu berulang: jangan lihat seseorang/sesuatu dari sisi penampilan belaka dan tolonglah siapapun tanpa pandang bulu, mau bulunya punya uang atau gak punya uang, tua atau muda. Jika butuh bantuan maka orang itu wajib ditolong dengan ikhlas dan sepenuh hati tanpa ada pamrih. Dengan begitu engkau akan mendapat ganjaran yang sertimpal.




Ceritanya seorang kakek misterius berkelana dari desa ke desa. Ketika kehausan dia menghampiri rumah seorang kaya dan meminta segelas air. Namun orang kaya itu menolak memberi. Kakek itu melanjutkan perjalanan. Ketika dilihatnya ada sebuah kedai makan. Dia meminta makanan kepada pemilik kedai, namun empunya kedai malah mengusirnya. Si kakek singgah di sebuah rumah sederhana. Seorang pemuda menyambutnya. Dia hanya punya sepiring nasi, namun melihat Si Kakek tampak lebih membutuhkannya maka diberikan nasi itu kepada Si Kakek. Si Kakek pun pulang. Selang beberapa hari Si Orang Kaya menemukan kendil terbuat dari emas, dia menyangka isinya pasti intan permata. Dia memanggil tetangganya. Di hadapan mereka dia membuka kendil emas itu, tetapi isinya ternyata ulat-ulat bulu yang banyak sekali dan mengerubuti rumah Si Kaya. Para tetanga berlarian merasa jijik. Sementara itu Si Pemilik Kedai menemukan kendil perak. Dia juga menyngka isinya adalah barang berharga, tapi begitu dibuka bau busuk menyebar hingga seisi kedai. Meski sudah ditutup bau itu tidak hilang. Kedai pun sepi. Kedua orang ini bangkrut dan hidup menggelandang. Sedangkan Si Pemuda menemukan kendil tanah liat di depan rumah yang ternyata isinya adalah emas dan permata. Dia sangat terkejut dan bersyukur. Dia lantas memberikan sebagian benda-benda itu kepada kaum miskin. Begitulah buah dari sebuah pertolongan kecil yang ikhlas.
Read More
      edit

Senin, 31 Agustus 2015

Ditulis 05.03 oleh with 0 comment

Menghidupkan Singa


Judul buku                : Menghidupkan Singa
Penulis                      : Pamira & A. Wakidjan (ilustrator)
ISBN                        : -

Penerbit                    : Pustaka Jaya, Jakarta
Tahun terbit              : 1976
Jumlah halaman         : 16

Harga beli                 : Rp. 2500,-
Beli di                       : Social Agency Jl. Kaliurang, Yogyakarta
Tanggal beli               : 9 April 2012
Nilai                          : 3,5 dari 5

Komik ini unik. Bukan hanya karena ia masuk kategori buku kuno dan langka terbitan 1976. Ceritanya dapat dikatakan teramat antik sekali, agak absurd dan agak horor (gory), pun ilustrasinya yang bisa dibilang aneh dan tidak seksi untuk masa sekarang (hanya terdiri dua warna:kuning dan hitam). Tapi justru dari keunikannya inilah yang membuat komik ini istimewa.



Ceritanya ada empat pemuda yang sudah seperti bersaudara. Mereka belajar kepada seorang guru yang sangat sakti. Setelah beberapa bulan berlalu. Pemuda pertama punya ilmu menyambung tulang belulang. Pemuda kedua mampu memasang daging dan bagian dalam tubuh ke tulang belulang tadi. Pemuda ketiga yang paling hebat, ia dapat memberi nyawa ke makhluk yang sudah disambung tulang dan dagingnya tersebut. Sedangkan pemuda keempat hanya punya kebijaksanaan dan rendah hati. Mereka berempat setuju untuk mengabdi kepada raja.



Di tengah perjalanan mereka melihat tulang belulang singa. Terbitlah keinginan untuk mencoba ilmu yang mereka dapatkan. Pemuda pertama menyambung tulang belulang itu, pemuda yang kedua menempelkan daging hingga berbentuk singa seutuhnya. Tepat saat pemuda ketiga akan menghidupkan singa, pemuda keempat memperingatkan ketiganya agar jangan menghidupkan singa itu sebab “singa tetaplah singa.” Tapi himbauannya tidak digubris. Singa itu tetap dihidupkan dan memangsa habis ketiga pemuda tadi, sementara pemuda keempat telah memanjat pohon yang tinggi untuk menyelamatkan diri. Gimana? Serem dan aneh kan? Makanya aku beli ini komik.
Read More
      edit

Rabu, 26 Agustus 2015

Ditulis 04.18 oleh with 0 comment

Maui Pendekar Hawaii



Judul buku                : Maui Pendekar Hawaii
Penulis                      : Yus Rusamsi
ISBN                        : -

Penerbit                    : Pustaka Jaya, Jakarta
Tahun terbit              : 1979
Jumlah halaman         : 76
Ilustrator                    : A. Wakidjan

Harga beli                 : Rp. 5000,-
Beli di                       : Social Agency Godean, Yogyakarta
Tanggal beli               : 28 Mei 2015
Nilai                          : 3 dari 5

Maui dalam Maui Pendekar Hawaii yang merupakan saduran dari Hawaiian Tales (Helen L. Berkey)  adalah seorang pemuda Hawaii yang punya sejibun pengalaman ajaib serta jasa yang luar biasa besar bagi seluruh umat manusia. Berkat dialah kita bisa menikmati perputaran “normal” matahari terhadap Bumi sebagaimana adanya kini, sebab dulu matahari menampakkan diri hanya dalam waktu sekejab saja. Gara-gara ini banyak pekerjaan penduduk desa yang terbengkalai akibat singkatnya siang hari. Dia yang prihatin dengan keadaan ini kemudian membuat perangkap dari pilinan rambut untuk memerangkap matahari. Begitu matahari tertangkap dia lantas memukuli matahari dengan sebilah kapak dan memaksanya agar mengarungi angkasa dalam tempo yang lebih lambat (cerita ini bisa tampak pada sampul), matahari menuruti karena tidak tahan dipukuli oleh Maui. Sejak itulah matahari terbit dan beredar seperti sekarang.

Maui dan nenek pemilik air ajaib
Berkat dia pula kita bisa berdiri bebas berjalan menjejak Bumi sebagaimana mestinya tanpa terhalang adanya langit. Iya, langit. Sebab dahulu kala langit letaknya sangat rendah sampai-sampai manusia harus berjalan merangkak ke mana-mana, tidak bisa berdiri tegak, angin tidak bisa bertiup leluasa, udara menjadi amat panas, pohon-pohon pun tumbuh sangat pendek. Maui lalu mencari seorang nenek pemilik kendi berisi air ajaib yang sanggup membuat peminumnya bertenaga besar. Setelah meyakinkan si nenek, Maui dengan kekuatan barunya menjunjung langit satu persatu agar menjauhi daratan. Langit pun menggembung jauh dari Bumi hingga kini orang tidak perlu lagi merangkak-rangkak sebab kini langit sudah berada jauh dari Bumi.

Memang ceritanya amat sangat ajaib, tapi mau bagaimana lagi, toh ia adalah cerita rakyat dan legenda. Jika tidak cukup ajaib maka ia bukan masuk dalam legenda.
Read More
      edit