Tampilkan postingan dengan label Buku Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Februari 2019

Ditulis 14.19 oleh with 7 comments

Mbis


Judul buku                : Mbis
Penulis                      : M. Nasin, S.Pd.

Penerbit                    : Sahala Adidayatama, Jakarta
Tahun terbit              : 2003
Jumlah halaman       : 80
ISBN                        :  9789792440010

Ilustrator                   : Jehezkiel
Desain sampul          : Adi Muhammad Gumilar

Beli di                       : Social Agency Jl. Kaliurang Yogyakarta
Harga beli                 : Rp. 5000,-
Nilai                          : 4 dari 5


Sebagai naskah yang memenangkan sayembara penulisan bacaan Depdiknas (2003) agak mengherankan bagaimana buku ini ‘hanya’ nangkring di penerbit kecil yang relatif tidak terkenal. Setidaknya buku model begini hadir dari Balai Pustaka atau Grasindo tapi nyatanya tidak.

Walau begitu aku bisa mengerti mengapa buku ini dipilih jadi pemenang. Alur ceritanya menarik nan seru, dan punya potensi menjadi tulisan yang lebih koheren dan lebih panjang di tangan penulis yang lebih terampil mengolah ide cerita, atau malah dialih-mediakan menjadi film anak-anak. Kurasa kalau aku masih kanak-kanak buku ini akan menjadi favoritku. Sungguh!

Sinopsis cerita adalah sebagai berikut. Perhatian! Alur kisah cukup panjaaang.

Kita mengikuti petualangan dari sudut pandang Taufik, seorang bocah (remaja?) asal pulau Jawa yang berada di tengah perang antar sesama suku Asmat. Ayah Taufik yang adalah anggota MER-C mengirim Taufik ke Timika untuk bertemu pamannya yang anggota TNI AU. Namun kapal yang membawanya dari Elat kandas dihantam badai. Dua orang suku Asmat menyelamatkannya, mereka membawanya ke kampung Agats. Di sana dia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Kelly yang dulunya pernah berkuliah di Bandung (IAIN Gunung Jati) sehingga dia bisa berbahasa Indonesia. Karena lokasi Timika jauh dari Agats, Taufik diminta menetap untuk sementara sampai Kelly bisa mengantarnya ke sana.

Orang Agats tengah berkonflik dengan orang Syuru yang juga sama-sama suku Asmat. Keadaan sedang sulit, sumber makanan langka tanpa diketahui penyebabnya sehingga wilayah berburu dan berladang saling dijaga ketat. Tersiarnya desas-desus bahwa seorang pemuda Agats mbeter (melarikan) gadis Syuru memperparah situasi. Suatu hari ketika tengah asyik berlatih memanah, Taufik dan seorang bocah Agats ditangkap orang Syuru karena dianggap melanggar batas wilayah. Tampak di sisi Kepala Suku Syuru seorang lelaki bule bernama Godart yang jelas-jelas menghasut orang Syuru agar mengayau (memenggal kepala dan memakan) dua bocah itu. Usulan itu tidak saling disepakati antar mereka.

Hugeis, pemuda Syuru yang juga kawan baik Kelly membebaskan kedua bocah tersebut dan mengantar mereka kembali ke Agats. Rombongan itu dikejar, Hugeis kena tembak senjata api dan diperkirakan mati. Kembali ke kampung Agats, kakek dari Kelly dan Opit meninggal mendadak. Timbul kecurigaan dari kalangan orang Agats bahwa kematian Si Kakek akibat ilmu hitam kiriman orang Syuru.

Di kalangan orang Agats timbul pendapat agar mereka berperang melawan orang Syuru sedangkan sebagian lain menolaknya. Seorang tetua Agats, Pak Amarok mencegah suasana panas itu dengan menceritakan legenda Fumiripits yang membuat patung-patung Mbis dan menghidupkannya sehingga terciptalah suku Asmat, termasuk di antaranya menjadi orang Agats dan Syuru, sehingga pertumpahan darah sesama saudara tidak bisa dibenarkan. Mereka pun urung mempersiapkan perang.
Mendengar bahwa orang Syuru akan melaksanakan upacara perahu yang biasanya dilakukan untuk menyambut perang, orang Agats mengutus Kelly dkk. termasuk Taufik untuk mengintai. Sayangnya Kelly dan Taufik tertangkap. Mereka disiksa dan akan dikayau bersamaan dengan rampungnya perahu. Kelly memperingatkan kepala suku Syuru [dan ini sangat penting untuk disimak] bahwa ayah Taufik adalah tentara, dan jika terjadi apa-apa kepadanya kampung ini akan diserbu tentara. Tetapi toh ancaman itu tidak mengendurkan niatan orang Syuru.

Pada hari yang ditentukan, Kelly dan Taufik diikat saling membelakangi pada sebilah patok kayu siap untuk dikayau. Tiba-tiba orang-orang Agats bersama warga kampung lain datang mengepung kampung Syuru demi mencegah tradisi mengayau kembali hidup. Di antara mereka hadir Hugeis yang semula dikira sudah mati. Kepada penduduk kampungnya dia menceritakan bahwa yang menembak dan membuangnya ke sungai adalah orang suruhan Godart, si bule. Jelas sudah semua konflik dan kesalahpahaman ini didalangi oleh Godart. Terdesak, Godart dan anak buahnya melarikan diri ke sungai dengan menaiki perahu.

Selanjutnya Kelly dan Taufik mengungkap motif adu domba yang dilakukan Godart selama ini. Rupanya dia menaruh dendam kepada orang Agats karena kakek buyutnya dulu dibunuh oleh buyut Pak Amarok, tetua kampung Agats. Mereka menemukan bukti bahwa Godart sengaja mematikan pohon-pohon sagu dan ubi jalar sehingga orang Syuru kesulitan mencari bahan makanan. Dari situlah Godart masuk membawakan bahan makanan, menyebar isu mengenai mbeter yang dilakukan pemuda Agats, dan memengaruhi orang Syuru agar berperang dengan orang Agats.

Keterlibatan militer yang menjadi deux ex machina, persenjataan modern hanya bisa dilawan yang modern juga

Seluruh warga kampung yang tadinya berseteru sepakat menghelat upacara Mbis untuk mengikat persahabatan antara keduanya. Saat tengah larut dalam kegembiraan itu Godart dan anak buahnya menyerbu dengan senjata api. Kelly tertembak karena berupaya melindungi Pak Amarok. Di luar dugaan tentara AU yang dipimpin paman Taufik muncul dengan helikopter (kedatangan mereka sebenarnya adalah untuk menjemput Taufik) mengejar komplotan Godart yang melarikan diri di atas perahu. Namun karena panik perahu Godart terbalik dan tidak satu pun dari mereka yang selamat.
Kelly yang terluka dibawa serta ke Timika untuk mendapat perawatan, Taufik turut serta dan akhirnya bertemu dengan ayah ibunya. Seminggu kemudian mereka mengantar Kelly kembali ke Agats di mana dia diangkat menjadi anak angkat Pak Amarok dan Hugeis menjadi kepala kampung Syuru.

Cukup seru bukan?

Jalinan cerita di atas tak ayal menyisakan jejak khas karya antropologi (atau secara khusus, etnografi) dengan aroma detektif cilik, lengkap dengan prasangka awal penulisnya terhadap orang Papua yang merasuk dalam tokoh Taufik. Tokoh utama menjadi pengamat yang kadang terlibat namun seringnya sudah punya pengetahuan khusus terhadap subjek orang Papua, dia kerap terkejut-kejut tapi tenang di saat bersamaan terhadap adat suku Asmat. Mirip seperti buku Orang Iban karangan Kissumi Dwiyananingsih, di mana cerita disajikan bak pengamatan atas pengalaman: tokoh utama adalah orang luar yang kadang mendapat penjelasan atas apa ini-apa itu dan apa yang terjadi. Tak jarang interaksi tokoh utama dengan tokoh lain berlangsung bak wawancara, sehingga terasa janggal. Misalnya, Taufik bertanya “bivak itu apa?”, yang dijawab oleh Kelly, “bivak itu rumah asli orang Asmat yang berada di tengah hutan…” keterangan lanjutan Kelly ini cukup panjang dan runut yang disampaikan dalam satu kalimat.

Pada bagian lain dalam buku, Taufik banyak bertanya mengenai adat istiadat yang berkaitan dengan kematian sementara Kelly menjawabnya dengan taktis nan tangkas. Bagian ini sangat terasa tidak punya hubungan langsung dengan alur cerita dan konflik di dalamnya, hanya semata ingin menjelaskan kepada pembaca mengenai budaya orang Asmat yang barangkali aneh nan eksotik bagi orang luar seperti Taufik, atau…memamerkan bahwa penulis benar-benar melakukan penelitian lapangan sebelum menulis.

Di sinilah titik yang buatku menggangu karena penulis terlampau asyik mendeskripsikan apa yang terjadi seolah tanpa melibatkan si tokoh secara pribadi atau jikalau begitu pun terasa dipaksakan dan jadi tidak masuk akal. Masa iya, di saat nyawa terancam akan dikayau masih sempat-sempatnya Taufik memaparkan detail tradisi upacara perahu yang dilakukan orang Syuru, pilihan kayunya lah, teknik lah, dan cat yang dipakai untuk mewarnai. Ujungnya, tokoh-tokoh di dalam cerita hanya menjadi sarana untuk menjelaskan apa yang pernah dilihat atau diketahui penulisnya.

Satu hal menarik lagi, tokoh Kelly yang punya latar pendidikan di pulau Jawa bercita-cita membuat tanah Papua jadi lebih berperadaban. Dia menganjurkan cara bertanam modern kepada kaumnya yang dipelajari dari orang Jawa, dia ingin adat menunggui orang sekarat diganti dengan berobat saja sampai sembuh, dan dia ingin pula menghilangkan adat papis (tukar istri). Semua ini tentunya cita-cita mulia…yang dipandang dari sudut orang luar Papua dan ancaman bagi keberlangsungan adat suku Asmat. Tuduhan bias budaya yang menganggap orang Jawa lebih modern, sementara orang Papua lebih primitif dapat saja dialamatkan terhadap buku ini. Namun apakah benar seperti itu? Perlu penelaahan lebih lanjut.
Read More
      edit

Minggu, 23 Desember 2018

Ditulis 21.07 oleh with 0 comment

Dongeng dongeng Nusantara


Judul buku                : Dongeng dongeng Nusantara
Penulis                      : Rahmani Rauf

Penerbit                    : CV Rian Utama Jakarta
Tahun terbit              : 1995
Jumlah halaman       : 60
Ilustrasi                    : -

Nilai                          : 3 dari 5

Satu lagi buku proyek Depdikbud, kali ini buah Inpres tahun 1984 namun terbitan 1995(!). Tulisan Rahmani Rauf mengalir lancar, terasa agak terburu-buru, tapi masih enak dibaca. Apakah dia ini Siti Rahmani Rauf penggagas model pengajaran “ini Budi” di buku pelajaran anak SD pada 90-an yang termasyur itu? Bisa jadi. Kita belum tahu pasti.

Aroma saduran dari lima dongeng yang dirangkai di buku ini sangat jelas kentara. Saduran ini seolah sengaja menghilangkan jejak asal dongeng dengan mengganti nama tokoh dan wilayah menjadi lebih berbau dongeng (baca: antah berantah). Adakah lewat keantah-berantahan ini muatan moral diharapkan lebih menonjol dibanding muatan lokalnya?

Kecuali “Rawang Si Takuluk,” menceritakan seorang anak durhaka kepada ibunya yang mengindikasikan lokasi ada di Sumatera Barat dan “Sejuta Kunang-Kunang di Puncak Kalapacung” berkisah tentang seorang anak yang dibuang ibu tirinya yang mungkin berlatar di Purbalingga, tiga lainnya sangat berlatar antah berantah.

Misalnya, ada raja bernama Basidu dan anaknya Pangeran Bagebu dari sebuah kerajaan tanpa nama dalam “Kota Yang Dikutuk,” atau baginda Tuanku Raja Di Atas dengan anaknya Pangeran Mirza dari lagi-lagi kerajaan tanpa nama dalam “Batu Menangis.” Kedua dongeng sama-sama bercerita tentang seorang pangeran yang terasing jauh dari negerinya dan kembali untuk merengkuh apa yang menjadi haknya: menjadi raja yang adil bijaksana.

Uniknya, satu dongeng berjudul “Namanya Hibrida” tidak bernarasi layaknya dongeng. Berkisah tentang Si ‘Ibu’ Pohon Kelapa Hibrida yang memaparkan kepada ‘anak-anaknya’ (yaitu buah-buah kelapa) mengenai asal usul kelapa hibrida secara SAINTIFIK, cerita ini mungkin satu-satunya karangan orisinal Rauf tanpa meminjam teks dongeng lain yang telah mapan. Bukan saja agak berbau program pertanian/perkebunan pemerintah tapi ia hadir bak anomali menyeruak di tengah-tengah kumpulan dongeng. Buatku ketika masih kecil ‘dongeng’ ini sangatlah aneh. Gak seru, gak imajinatif. Namun justru jadi menarik buatku sekarang sebab hal semacam ini amat lumrah di zaman Soeharto. Apakah dongeng ini pesanan pihak tertentu?

Apakah sebuah cerita dapat menjadi “dongeng” hanya dengan membuat tokohnya yang bukan manusia bisa berbicara meski secara narasi tidak terasa seperti dongeng seperti buah kelapa di "Namanya Hibrida" ini?
Read More
      edit

Rabu, 21 November 2018

Ditulis 16.42 oleh with 6 comments

Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal


Judul buku                : Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal
Penulis                      : Dj. Hasugian

Penerbit                    : CV Rosda Karya Bandung
Tahun terbit              : 1982 (cetakan pertama: 1981)
Jumlah halaman       : 58
Ilustrasi                    : Asmadi

Nilai                          : 3 dari 5


Buku cerita ini sebetulnya punya liku kisah menarik. Hanya saja gaya penyampaiannya agak tipikal buku anak-anak masa itu (1980-1990-an) yang memang menjadi target pembacanya (salah satunya aku ketika masih kecil). Gaya bercerita yang kumaksud adalah dengan menempatkan pembaca sebagai pengamat/penonton atas tokoh utama sebenarnya yang dijadikan suri-tauladan.


Tokoh yang mulanya diperkenalkan kepada pembaca adalah Kamal, seorang anak berprestasi tinggi. Catatan: Kamal adalah kita, di mana kita diharapkan mengidentifikasikan diri dengannya agar hendaknya kita berprestasi juga (?). Itulah sebabnya Kamal dijanjikan oleh ayahnya diantar ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan teman ayahnya yang luar biasa sukses, Pak Gono agar dia (baca:kita) bisa mendengar kisah suksesnya.

Pada pertemuan Kamal dengan Pak Gono inilah terjadi peralihan tokoh utama dari Kamal ke Gono muda. Layaknya perpindahan lari estafet kepada pelari yang lebih jago daripada pelari sebelumnya, kisah Pak Gono semasa muda menderu seru kaya petualangan tidak seperti Kamal yang super-bland, kaku, dan tidak menarik.

Pola cerita dengan model semacam ini mungkin hanya akrab buat anak-anak yang tumbuh di masa 1980-1990-an. Sebagian buku cerita yang kuulas di blog ini juga punya pola serupa. Pembaca harus selalu menengadahkan kepala memandang kagum ketika orang yang ada di atas itu memberimu wejangan. Iya, aku sedang menudingmu Mbah Harto!

Diangkat dari kisah nyata Gono Tirtowidjojo, seorang pengusaha ekspedisi kapal, yang belakangan aku baru tahu kisahnya pernah difilmkan dengan judul Mustika Ibu dan dibintangi Dedy Sutomo, buku ini berfokus pada hardship-nya Gono muda. Perjuangan penuh derita Gono diceritakan cepat tanpa basa-basi jika tidak mau dibilang terburu-buru, mulai dari dibuang keluarganya, merantau ke berbagai kota, bergonta-ganti profesi, ikut perang kemerdekaan, sampai dia sukses menjadi pengusaha.

Gono adalah seorang putra Sunda asli yang dipungut keluarga Cina (maksudnya Tionghoa). Ibu kandungnya yang miskin menjual Gono ketika masih bayi karena tidak kuat merawatnya.

Hidup sebagai anak pungut membuat Gono menderita lahir batin akibat siksaan orang tua angkat. Dari seorang tukang bajigur Gono mengetahui mengenai ibu kandungnya. Dia pun menemui ibu kandungnya lalu bertekad merantau ke Batavia untuk merubah nasib, pergi dari keluarga yang telah membesarkannya.

Di Batavia dia kerja serabutan dan hidup menggelandang. Sesudah bekerja menjadi kuli panggul beberapa saat. Dia diajak bekerja di sebuah toko di Lampung oleh seorang pedagang tembakau.

Sewaktu Perang Aisa Timur Raya pecah, Jepang memasuki Indonesia menggantikan Belanda. Jepang merekrut banyak tenaga untuk keperluan perang. Salah satunya Gono yang bekerja pada dinas pelayaran Jepang di mana karirnya melejit cepat.

Menyerahnya Jepang dalam perang membuat Belanda kembali ke Indonesia. Dengan keahlian nahkodanya Gono menjadi seorang penyelundup senjata bagi para pejuang kemerdekaan. Dia lalu bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat sampai dalam sebuah pertempuran dia tertangkap dan disiksa oleh Belanda supaya mau memberitahukan posisi TKR, namun Gono tetap bertahan.

Pada suatu waktu Gono berhasil meloloskan diri. Akibat siksaan yang dialaminya Gono menderita sakit yang membuatnya tidak bisa ikut berjuang lagi hingga perang usai. Selepas perang Gono memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang perkapalan untuk membangun usaha ekspedisi kapal muatan. Usahanya maju mengalami pasang surut.

Suatu hari dia ditawari untuk membeli sebuah kapal yang terbenam di dasar laut Surabaya. Yang mengejutkan Gono adalah nama kapal itu sama dengan nama kapal yang dilihat di mimpinya: Kota Silat. Percaya bahwa ini suatu pertanda, dia membeli dan memperbaiki kapal itu. Dan pada pelayaran pertamanya menuju Jakarta dia sendiri yang menjadi nahkodanya.

Kapal pertamanya tersebut membawa keberuntungan. Dari satu kapal kini Gono memiliki 12 kapal lain. Usahanya sukses, dia kaya raya, dan menerima penghargaan dari gubernur Jakarta dan presiden. Cerita ditutup dengan Kamal yang bangun keesokan harinya bersiap untuk melihat dok kapal Pak Gono.

Cukup mengasyikkan ya kisahnya. Sayangnya ya itu terasa disingkat-singkat. Memang sih kisah sukses di atas memang sangat klise, klasik, dan serba sudah diduga. Tipikal cerita “sengsara membawa nikmat.” Model cerita yang ngetren kala itu, tidak seperti sinetron sekarang yang serba hedonisme. Kenapa? Gak tau ya. Mungkin karena rata-rata rakyat Indonesia ketika itu memang hidup kekurangan (kayak sekarang enggak aja).

Kalau ada yang menarik bagiku adalah upaya si narator kisah (yaitu Pak Gono) mengelak/menampik/menyangkal ke-Tionghoa-annya. Entah memang Gono sendiri yang menuturkan kepada penulis (Dj Hasugian) bahwa dia bukan Tionghoa atau adakah masyarakat saat itu diam-diam anti Tionghoa?

Read More
      edit

Rabu, 07 November 2018

Ditulis 20.00 oleh with 0 comment

Husein Pahlawan dan Syahid Besar



Judul buku                : Husein, Pahlawan dan Syahid Besar
Penulis                      : Nawawi Rambe (penyadur) dari Husain The Great Martyr (Fazl Ahmad)

Penerbit                    : Depdikbud, PT Bumi Restu (Percetakan)
Tahun terbit              : 1985 (cetakan pertama: 1982)
Jumlah halaman       : 70

Nilai                          : 3 dari 5


Buatku cukup aneh juga ketika hari ini kaum Syiah terus dianggap sesat dan disudutkan oleh mayoritas penganut Islam Sunni tanpa kecuali di Indonesia, namun melupakan kenyataan bahwa pernah terbit buku cerita buah proyek pengadaan buku Depdikbud di mana ia mengisahkan betapa heroiknya kematian Husein bin Ali bin Abu Thalib.

Husein memang cucu nabi Muhammad—tokoh yang dihormati kalangan Sunni—tapi dia juga imam Syiah yang berperan penting dalam haluan teologi Syiah. Aliran Islam yang dicap sesat oleh sebagian penganut Sunni. Mungkin karena khawatir akan ke-syiah-an tersebut. Terdapat upaya tersurat untuk lebih menghubung-hubungkan perjuangan Husein dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia (via jalur militer?) di bagian prakata.

“Kerelaan Husein mengorbankan segala-galanya, telah mengangkat martabatnya sebagai pribadi yang luhur, sebagai teladan dan lambang kebenaran dalam perjuangan abadi melawan kezaliman…tokoh-tokoh pejuang demikian ini banyak pula terdapat di persada tanah air kita, terutama pada masa puncak perjuangan merebut kemerdekaan Negara Indonesia tercinta.”

Kurasa buku ini dibeginikan karena posisinya yang tak lain adalah saduran dari buku lain berjudul Husain The Great Martyr karya Fazl Ahmad yang kita—aku tidak tahu seperti apa isinya. Sehingga ketokohan Husein di buku ini barangkali direduksi oleh penyadur/penulis Nawawi Rambe ke dalam bingkai perjuangannya atas suatu cita-cita yang “setara” dengan perjuangan rakyat Indonesia dan karenanya layak menjadi teladan generasi muda Islam di masa pembangunan (soal pembangunan ini disebut pada prakata).

Tapi jika ada satu yang memikat dari buku ini bagi pembaca kiranya adalah universalitas nilai heroisme, terlepas dari dia itu golongan Sunni atau Syiah. Kita jelas melihat betapa kesyahidan (kemartiran) seseorang  dirayakan melintasi latar sejarah, budaya, bangsa, negara, dan agama.

Alur buku cerita ini persis sama dengan narasi umum pertempuran di Karbala (battle of Karbala) yang bermula dari permusuhan antara pendukung Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan terkait kebijakan khalifah Usman bin Affan yang dinilai oleh Ali terlalu bersifat kekeluargaan.

Naiknya Yazid sebagai khalifah menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam. Selain karena statusnya yang adalah putra Muawiyah (khalifah sesudah Hasan bin Ali mengundurkan diri), watak Yazid yang gemar berfoya-foya menjadi pangkal penyebabnya. Ketika Yazid menuntut sumpah setia Husein kepadanya, Husein menolak dan melarikan diri ke Mekkah.

Dukungan dari penduduk Kufah (Irak) agar Husein menjatuhkan Yazid mengalir deras. Husein beserta pengikutnya pun berangkat ke Kufah dari Mekkah meski mendapat tentangan dari sahabat-sahabatnya. Mendengar ini gubernur Ibnu Ziad menyiapkan pasukan untuk menghadang rombongan Husein.

Di padang Karbala, pergerakan rombongan Husein ditahan oleh pasukan Al-Hurr. Mereka tidak diizinkan melanjutkan maupun kembali ke Mekkah. Perundingan yang ditawarkan Husein dengan diperantarai Umar bin Saad ditolak Ibnu Ziad. Umar bin Saad yang diperintahkan menggempur rombongan Husein menawarkan agar Husein menyerah tanpa syarat. Husein meminta waktu hingga keesokan harinya.

Malam itu Husein menyampaikan kepada pengikutnya bahwa mereka boleh pulang demi menghindari peperangan yang tak terelakkan. Tidak satupun dari mereka mundur. Mereka lalu menghabiskan malam dengan berdoa bersiap untuk esok hari.

Tepat pagi hari 10 Muharram pertempuran sengit pecah. Pasukan Al-Hurr yang semula berada di pihak Ibnu Ziad menyebrang ke pihak Husein. Husein dan pengikutnya yang kalah jumlah bisa memberi perlawanan gigih hingga tengah hari di mana mereka semua pada akhirnya gugur.

Tragedi ini memicu serangkaian peristiwa saling balas antara kedua pendukung masing-masing pihak. Disebutkan secara ringkas bahwa Khalifah Yazid meninggal dalam keadaan depresi, Umar bin Saad tewas dibunuh, Syimar yang menamatkan Husein mati mengenaskan, Gubernur Ibnu Ziad mati dipenggal. Sementara nama Husein abadi sebagai pahlawan.
Read More
      edit

Minggu, 04 November 2018

Ditulis 20.52 oleh with 2 comments

Aku Diterjunkan di Irian Jaya


Judul buku                : Aku Diterjunkan di Irian Jaya
Penulis                      : A. Soeroto

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1974
Jumlah halaman       : 52
Gambar oleh             : C.Z. Dupe

Nilai                          : 3 dari 5

Buku ini lagi-lagi seperti sejumlah postingan di blog ini adalah bacaan dari masa kecilku. Jumlah halamannya hanya 50-an. Paslah untuk anak-anak yang baru mulai keranjingan membaca. Lagipula alur ceritanya mudah dipahami, liniear, cukup seru dan menegangkan buatku ketika itu. Meski sebenarnya kalau dibaca lagi sekarang cerita dalam buku ini boleh dibilang terlalu sederhana dan minim detail.

Mengisahkan mengenai pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Kita dibawa menyimak langsung pengalaman dari sudut pandang si “aku,” seorang prajurit muda bernama Gus (Agus?), dengan gaya penyampaian mirip diari atau jurnal perang.

Cerita diawali dari Gus dan kawannya sesama prajurit yang dipersiapkan di sebuah lokasi di dekat kota Ambon untuk dikirim ke Irian Barat (begitulah penyebutannya, bukan Papua) guna berkonfrontasi lawan Belanda. Suatu malam mereka diberangkatkan dengan menumpangi pesawat Hercules di atas langit Irian. Dalam gelap semua prajurit diterjun-payungkan. Sialnya beberapa kawan mereka ditembaki Belanda dari bawah.

Gus mendarat dengan selamat, namun dia pingsan. Payung Gus ternyata menyangkut di sebuah pohon yang sangat tinggi. Setelah berhasil turun dia menyusuri pekatnya hutan ke arah utara sesuai perintah atasannya. Dia pun bertemu dengan kawan-kawannya. Mereka sepakat untuk tidak meneruskan ke utara, melainkan ke arah pantai.


Pihak Belanda menjadi musuh yang hadir tanpa wajah
Sempat lolos dari sergapan pasukan Belanda, mereka terus menembus hutan hingga berhari-hari. Letih, kehabisan bekal dan amunisi mereka secara kebetulan menjumpai penduduk lokal dan memintanya menunjukkan jalan perkampungannya.

Di perkampungan itu mereka berjumpa dengan kawan-kawan prajurit yang telah lebih dahulu bernaung di sana. Mereka semua diterima dengan baik oleh penduduk kampung. Hingga kemudian memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke pantai.

Dengan dipandu salah seorang penduduk para prajurit itu menuju pantai. Belum jauh mereka segera menemukan selebaran yang menerakan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda serta akan adanya penyerahan Irian asalkan memang rakyat Irian sendiri yang memintanya (refenrendum?).

Awalnya mereka curiga bahwa selebaran ini hanya tipuan Belanda. Tetapi setelah salah seorang dari mereka mencari kabar ke Kaimana terbukti bahwa edaran tersebut memang benar adanya. Mereka semua pun gembira dengan kemenangan ini dan bersiap meninggalkan Irian. Sudah begitu saja. Cerita berakhir di sini. Cukup sederhana kan?

Namun, justru di situlah yang menarik. Buku ini sama sekali absen dari intrik politik dibalik upaya merebut Irian Barat. Bahkan abai pada dimensi kepentingan yang lebih besar, siapa inisiator (Soekarno), siapa komandannya (Soeharto), apa kepentingan misi ini.


Penduduk Irian digambarkan sangat terbelakang. Yang meski ramah dan hangat membuat para prajurit tidak betah berlama-lama menetap di kampung mereka

Karakter si tokoh utama, Gus, terasa sangat naif dan lugu. Gus dan kawan-kawan sesama prajurit di cerita ini tampak tidak tahu apa yang mereka harus perbuat (no idea, no clue istilahnya), atau apa sebenarnya misi mereka. Di dalam buku hanya diindikasikan bahwa mereka di situ hanya untuk membuat pihak Belanda cemas.

Adakah kenaifan tersebut disengaja oleh penulis karena buku ini ditujukan untuk anak-anak? Mungkin saja kurasa.

Bagiku sungguh menggelitik karena petualangan yang dialami Gus dan kawan-kawannya sangat jauh dari heroisme ideal atau patriotisme berapi-api bela negeri. Gus dan kawan-kawannya tampak sangat manusiawi: mereka merasakan keraguan, kebingungan, dan ketakutan menghadapai dua musuh sekaligus: hutan rimba dan Belanda yang mengintai dari kerimbunan. Pendeknya, buku ini adalah cerita kecil mengenai prajurit kecil di tengah masalah besar.

Jika apa yang ada di dalam cerita ini adalah gambaran akurat dan otentik mengenai peristiwa di Irian (Papua) yang sebenarnya. Maka buku ini perlu menjadi dokumen sejarah alternatif untuk  menyibak apa sebenarnya yang terjadi ketika itu di mata prajurit berpangkat rendah. Bahwa peristiwa sejarah dan militeristik nyatanya bukan soal patriotisme semata tapi juga bagaimana menjadi manusia biasa.
Read More
      edit

Senin, 15 Oktober 2018

Ditulis 15.11 oleh with 0 comment

Cikal Bakal Bani Israil


Judul buku                : Cikal Bakal Bani Israil (Father of Israel)
Penulis & ilustrator  : Ibnu Nouval & Saifullah
ISBN                        : -

Penerbit                    : PT Bina Ilmu, Surabaya (Proyek Pengadaan Buku Perpustakaan Dikmenum)
Tahun terbit              : 1985
Jumlah halaman        : 48

Nilai                          : 3 dari 5

Barangkali cukup aneh kalau saat ini, di tengah sentimen anti-asing (baca: xenofobia) yang melanda Indonesia, pernah terbit buku yang disponsori Depdikbud bertema bangsa Israel. Bangsa yang secara teologis dibenci dan diniscayakan menjadi musuh oleh umat Islam. Tidak terkecuali di Indonesia (ataukah terutama di Indonesia?).

Itu sebabnya sewaktu aku masih kecil aku sempat dilanda kebingungan. Apakah Israel yang ada di buku ini adalah orang baiknya (the good guys), berlawanan dengan yang kudengar selama ini. Era 1990-an, masa di mana aku dibacakan (oleh Ibu) dan membaca buku ini, berita di TVRI juga sudah sering mengantagoniskan [negara] Israel atas Palestina.

Adakah toleransi di masa 1980-an jauh lebih baik dari saat ini atau kesadaran identitas agama belum sebegitu meruncing? Mungkin memang benar bahwa reformasi 1998 memberi pengaruh besar terhadap pola pikir rakyat Indonesia akibat longsornya Soeharto. Sekurangnya, seingatku, sentimen anti-Israel sudah dimulai di sejumlah majalah “islami” bawah tanah menjelang akhir 90-an.

Kurasa karena kebencian buta inilah yang membuat kisah [nabi] Yakub tidak akrab di telinga orang beragama Islam. Di situlah peran buku ini.

Buku Cikal Bakal Bani Israil ini menceritakan asal usul bangsa Israel (bani Israil). Di awali dari kelahiran Ishaq (Ishak) putra Ibrahim dengan Sarah. Ishaq menikahi Rifqah dan dikarunia dua putra kembar yang diberi nama Yakub dan Ishu. Namun Rifqah sangat pilih kasih. Dia lebih menyayangi Yakub yang lantas menyemai dengki dalam hati Ishu.

Yakub menyadarinya. Dia kemudian meminta nasehat Ishaq, ayahnya. Sang ayah menyarankan Yakub menyingkir ke negeri Faddan Araam, ke rumah pamannya yang bernama Laban untuk menikahi salah satu dari dua putrinya. Yakub menerima perintah itu dengan taat.

Dari sini petualangannya dimulai. Dan inilah momen yang paling kuingat dari buku ini. Yakub mendapat gelar “Israil” karena dia menempuh perjalanan dari Syam (Palestina) menuju Faddan Araam (di Irak) pada malam hari dengan berjalan kaki, mengunakan bintang-bintang sebagai pedoman arah. Israil artinya adalah orang yang berjalan di malam hari. Ketika siang datang dan sinar matahari mulai memanas, Yakub beristirahat di bawah naungan bongkahan batu besar. Kemudian dia melanjutkan perjalanan di kala gelap. Begitu seterusnya hingga dia tiba di rumah pamannya.


Ilustrasi garapan Saifullah sangat bergaya "luar" yang mana aku suka
Setelah bertemu pamannya, Yakub menyampaikan maksud untuk menikahi salah satu putri pamannya. Pamannya (Laban) menyetujuinya asal Yakub bersedia menggembala biri-biri mereka sebagai mahar perkawinan selama tujuh tahun ke depan. Iya, benar. Tujuh tahun demi seorang gadis!

Sesudah tujuh tahun berlalu, Laban memenuhi janji. Yakub dinikahkan dengan putri pertamanya, Laya. Tetapi Yakub menyampaikan bahwa dia sebenarnya berharap dinikahkan dengan Rahil (adik Laya) yang lebih cantik. Laban mengerti namun adat memang melarang seorang adik menikah mendahului kakaknya. Untuk itu Yakub harus menggembala biri-biri [lagi] selama tujuh tahun [lagi] jika mau mempersunting Rahil. Yakub menyanggupi.

Untuk tujuh tahun kemudian Yakub menjalani karir sebagai gembala dengan sabar. Setelah total 14 tahun dia akhirnya bisa menikahi Rahil, perempuan impiannya. Bayangkan! 14 tahun! Malu hukumnya kalau kamu sudah menyerah hanya dalam hitungan hari.

Jadi hikmahnya adalah, selain pantang mengeluh, ada baiknya kamu tidak minta secara spesifik anak orang mana yang akan kamu persunting. Siapa tahu nasibmu semujur Yakub. Sebab bukan hanya dia beristri dua bersaudari. Yakub juga menikahi dua pelayan mereka, Zulfah dan Balhah.


Tampil dwi bahasa (Indonesia dan Inggris). Yang kalau dicermati, bahasa Inggrisnya cukup alakadarnya. Mungkin dimaksudkan sebagai sarana belajar bahasa Inggris.

Dari empat istri ini lahirlah dua belas anak yang dikenal dengan nama Bani Israil. Dua di antaranya adalah Yusuf dan Bunyamin (anak Yakub dengan Rahil). Meninggalnya Rahil, membuat Yakub—lagi-lagi seperti ibunya dahulu—lebih menyayangi keduanya yang kelak berujung pada dibuangnya Yusuf oleh saudara-saudaranya yang lain akibat dengki hati.

Di sinilah buku ditutup dengan “bersambung pada buku Yusuf dan Saudara-saudaranya.” Cerita yang sudah terlalu akrab rasanya di telinga orang Islam. Yang mana mencuatkan pertanyaan, mengapa kisah Yusuf lebih populer daripada Yakub bapaknya? Padahal keduanya sama-sama diidentifikasikan sebagai bani Israil? Hmmm…
Read More
      edit

Rabu, 26 Agustus 2015

Ditulis 04.18 oleh with 0 comment

Maui Pendekar Hawaii



Judul buku                : Maui Pendekar Hawaii
Penulis                      : Yus Rusamsi
ISBN                        : -

Penerbit                    : Pustaka Jaya, Jakarta
Tahun terbit              : 1979
Jumlah halaman         : 76
Ilustrator                    : A. Wakidjan

Harga beli                 : Rp. 5000,-
Beli di                       : Social Agency Godean, Yogyakarta
Tanggal beli               : 28 Mei 2015
Nilai                          : 3 dari 5

Maui dalam Maui Pendekar Hawaii yang merupakan saduran dari Hawaiian Tales (Helen L. Berkey)  adalah seorang pemuda Hawaii yang punya sejibun pengalaman ajaib serta jasa yang luar biasa besar bagi seluruh umat manusia. Berkat dialah kita bisa menikmati perputaran “normal” matahari terhadap Bumi sebagaimana adanya kini, sebab dulu matahari menampakkan diri hanya dalam waktu sekejab saja. Gara-gara ini banyak pekerjaan penduduk desa yang terbengkalai akibat singkatnya siang hari. Dia yang prihatin dengan keadaan ini kemudian membuat perangkap dari pilinan rambut untuk memerangkap matahari. Begitu matahari tertangkap dia lantas memukuli matahari dengan sebilah kapak dan memaksanya agar mengarungi angkasa dalam tempo yang lebih lambat (cerita ini bisa tampak pada sampul), matahari menuruti karena tidak tahan dipukuli oleh Maui. Sejak itulah matahari terbit dan beredar seperti sekarang.

Maui dan nenek pemilik air ajaib
Berkat dia pula kita bisa berdiri bebas berjalan menjejak Bumi sebagaimana mestinya tanpa terhalang adanya langit. Iya, langit. Sebab dahulu kala langit letaknya sangat rendah sampai-sampai manusia harus berjalan merangkak ke mana-mana, tidak bisa berdiri tegak, angin tidak bisa bertiup leluasa, udara menjadi amat panas, pohon-pohon pun tumbuh sangat pendek. Maui lalu mencari seorang nenek pemilik kendi berisi air ajaib yang sanggup membuat peminumnya bertenaga besar. Setelah meyakinkan si nenek, Maui dengan kekuatan barunya menjunjung langit satu persatu agar menjauhi daratan. Langit pun menggembung jauh dari Bumi hingga kini orang tidak perlu lagi merangkak-rangkak sebab kini langit sudah berada jauh dari Bumi.

Memang ceritanya amat sangat ajaib, tapi mau bagaimana lagi, toh ia adalah cerita rakyat dan legenda. Jika tidak cukup ajaib maka ia bukan masuk dalam legenda.
Read More
      edit

Jumat, 21 Agustus 2015

Ditulis 04.08 oleh with 0 comment

Sepasar dan Satu Malam

Husein Djajadiningrat

Judul buku                : Sepasar dan Satu Malam
Penulis                      : Ny. Husein Djajadiningrat

Penerbit                    : Balai Pustaka, jakarta
Tahun terbit              : 1975 (cetakan pertama 1971)
Jumlah halaman       : 55
Gambar kulit            : Dahlan Djazh (ilustrator)

Nilai                          : 2,5 dari 5

Sepasar Satu Malam sebetulnya adalah kumpulan dongeng Nusantara. Tapi ia disajikan tidak seperti biasanya (dongeng-dongeng dalam satu buku yang seolah “lepas” satu dengan lainnya), melainkan mencoba meniru gaya legenda Seribu Satu Malam. Penceritanya tentu bukan Scheherazade kepada raja tapi...seperti mungkin telah kamu duga, seorang nenek kepada cucu-cucunya. 

Masing-masing dongeng disampaikan Si Nenek setiap malam selama “sepasar” menginap di rumah anaknya. Sepasar adalah lima hari pasaran menurut kalender Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), tapi dongeng yang disajikan berjumlah enam karena malam di hari kedatangan Nenek rangkaian dongeng langsung dimulai.

Namun,...model penceritaan inilah yang menimbulkan ketersendatan alur dan ruang. Sedikit sedikit kenikmatan kita sebagai pembaca diinterupsi oleh bukan saja perbincangan Si Nenek dengan cucu-cucunya tapi juga suasana liburan Si Nenek di rumah anaknya. Misalnya: ketika Si Nenek asyik mendongeng, tiba-tiba seorang cucunya bertanya ini-itu, memotong dongeng tanpa ada jeda tegas, mana dongeng mana obrolan santai. Bisa dibayangkan pemotongan ruang/waktu yang terjadi?

Penasaran juga sebetulnya mengapa model sub-plot yang berada di luar plot utama begitu sering dipakai di buku-buku cerita lawas era Soeharto. Hampir semua buku cerita lawas yang kumiliki memakai model ini. Penulis seolah ingin membuat suasana yang privat untuknya dengan harapan mengakrabkan situasi itu kepada pembaca tetapi sekaligus mengurangi hubungan privat pembaca dengan dongeng yang tengah disajikan.

Beberapa dongengnya sudah cukup dikenal: pada malam pertama (Kamis Pon) Nenek menceritakan “Walang Sintrong.” Joko Sembotok tinggal bersama ibunya di sebuah desa. Mereka bekerja sebagai petani sayur. Suatu hari banyak dari ketimun mereka raib dicuri. Joko pun berhasil menangkap pelakunya yang ternyata adalah seekor belalang raksasa. Joko dan ibunya hendak membunuhnya, namun Si Belalang dapat berbicara dan memohon ampun kepadanya. Joko memanfaatkan kemampuan Si Belalang ini untuk bertaruh dengan orang-orang yang lewat di jalan bahwa dia memiliki belalang yang dapat bernyanyi. Dia pun sukses memeras orang-orang yang awalnya tidak percaya sehingga dia menjadi kaya raya. Sampai suatu waktu Si Walang Sintrong tewas terinjak pengendara kuda. Joko dan Ibunya pun kembali menjadi petani sayur.



Husein Djadiningrat
bagian dalam buku dongeng "Walang Sintrong"

Malam kedua (Jumat Wage) “Paman Bangau.” Cerita klasik kecerdikan ikan yang lolos dari paruh bangau. Tapi diperpanjang sedikit dengan kisah yang tidak relevan ketika Si Bangau tidak sengaja memecahkan telur burung gemak lalu menebus kesalahannya dengan membawakan batu bata halus supaya gemak bisa bertelur lagi (?). 

Malam ketiga (Sabtu Kliwon) “Timun Mas dan Gajah Barong Mata Singa,” dongeng klasik yang kita semua sudah tahu. Malam keempat (Minggu Legi) “Panji Laras.” Lagi-lagi dongeng klasik tapi disertai Plot twist: ibu Panji Laras adalah Timun Mas. Malam kelima (Senin Pahing) “Nini Buto Ijo” alias Bawang Merah bawang Putih. Malam keenam alias terakhir (Selasa Pon) “Raja Ulat.” 

Dongeng penutup ini agak what the fuck. Saking what the fuck-nya sampai malas sebenarnya aku menyinopsiskan. Bukan saja antiklimaks (karena idealnya cerita penutup harusnya paling bagus) tapi dongeng ini anonim (tanpa nama tokoh) dan pondasi narasinya hanya berdasar pamali. Ceritanya ada seorang gadis cantik (dia hanya disebut "gadis cantik") yang somse (sombong sekali, yee kelihatan umurnya pake akronim jadul). Semua laki-laki ditolaknya. Sehingga usianya nyaris uzur. Dia pun stres dan sering tidur di emper rumah walaupun sudah dilarang orang tuanya. Dia mendapat mimpi bertemu seorang lelaki tampan yang datang melamarnya. Lelaki itu ternyata ada sungguhan, dia melamar Si Gadis lalu menikahinya. Besok harinya kedua pengantin tidak kunjung keluar dari kamar. Setelah pintu dibuka paksa Si Gadis (yang tidak 'gadis' lagi, ehm) tewas dipeluk ulat raksasa yang juga sudah mati. Si Ulat ternyata adalah jelmaan Raja Ulat. Kesimpulan Si Nenek pencerita: Jangan melangar pamali, yaitu tidur di emper rumah atau kamu akan dibunuh raja ulat. AH, Si Nenek juga lupa soal pamali, jangan akhiri dongeng dengan cerita yang what the fuck.


Read More
      edit