Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

Ditulis 20.00 oleh with 0 comment

Husein Pahlawan dan Syahid Besar



Judul buku                : Husein, Pahlawan dan Syahid Besar
Penulis                      : Nawawi Rambe (penyadur) dari Husain The Great Martyr (Fazl Ahmad)

Penerbit                    : Depdikbud, PT Bumi Restu (Percetakan)
Tahun terbit              : 1985 (cetakan pertama: 1982)
Jumlah halaman       : 70

Nilai                          : 3 dari 5


Buatku cukup aneh juga ketika hari ini kaum Syiah terus dianggap sesat dan disudutkan oleh mayoritas penganut Islam Sunni tanpa kecuali di Indonesia, namun melupakan kenyataan bahwa pernah terbit buku cerita buah proyek pengadaan buku Depdikbud di mana ia mengisahkan betapa heroiknya kematian Husein bin Ali bin Abu Thalib.

Husein memang cucu nabi Muhammad—tokoh yang dihormati kalangan Sunni—tapi dia juga imam Syiah yang berperan penting dalam haluan teologi Syiah. Aliran Islam yang dicap sesat oleh sebagian penganut Sunni. Mungkin karena khawatir akan ke-syiah-an tersebut. Terdapat upaya tersurat untuk lebih menghubung-hubungkan perjuangan Husein dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia (via jalur militer?) di bagian prakata.

“Kerelaan Husein mengorbankan segala-galanya, telah mengangkat martabatnya sebagai pribadi yang luhur, sebagai teladan dan lambang kebenaran dalam perjuangan abadi melawan kezaliman…tokoh-tokoh pejuang demikian ini banyak pula terdapat di persada tanah air kita, terutama pada masa puncak perjuangan merebut kemerdekaan Negara Indonesia tercinta.”

Kurasa buku ini dibeginikan karena posisinya yang tak lain adalah saduran dari buku lain berjudul Husain The Great Martyr karya Fazl Ahmad yang kita—aku tidak tahu seperti apa isinya. Sehingga ketokohan Husein di buku ini barangkali direduksi oleh penyadur/penulis Nawawi Rambe ke dalam bingkai perjuangannya atas suatu cita-cita yang “setara” dengan perjuangan rakyat Indonesia dan karenanya layak menjadi teladan generasi muda Islam di masa pembangunan (soal pembangunan ini disebut pada prakata).

Tapi jika ada satu yang memikat dari buku ini bagi pembaca kiranya adalah universalitas nilai heroisme, terlepas dari dia itu golongan Sunni atau Syiah. Kita jelas melihat betapa kesyahidan (kemartiran) seseorang  dirayakan melintasi latar sejarah, budaya, bangsa, negara, dan agama.

Alur buku cerita ini persis sama dengan narasi umum pertempuran di Karbala (battle of Karbala) yang bermula dari permusuhan antara pendukung Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan terkait kebijakan khalifah Usman bin Affan yang dinilai oleh Ali terlalu bersifat kekeluargaan.

Naiknya Yazid sebagai khalifah menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam. Selain karena statusnya yang adalah putra Muawiyah (khalifah sesudah Hasan bin Ali mengundurkan diri), watak Yazid yang gemar berfoya-foya menjadi pangkal penyebabnya. Ketika Yazid menuntut sumpah setia Husein kepadanya, Husein menolak dan melarikan diri ke Mekkah.

Dukungan dari penduduk Kufah (Irak) agar Husein menjatuhkan Yazid mengalir deras. Husein beserta pengikutnya pun berangkat ke Kufah dari Mekkah meski mendapat tentangan dari sahabat-sahabatnya. Mendengar ini gubernur Ibnu Ziad menyiapkan pasukan untuk menghadang rombongan Husein.

Di padang Karbala, pergerakan rombongan Husein ditahan oleh pasukan Al-Hurr. Mereka tidak diizinkan melanjutkan maupun kembali ke Mekkah. Perundingan yang ditawarkan Husein dengan diperantarai Umar bin Saad ditolak Ibnu Ziad. Umar bin Saad yang diperintahkan menggempur rombongan Husein menawarkan agar Husein menyerah tanpa syarat. Husein meminta waktu hingga keesokan harinya.

Malam itu Husein menyampaikan kepada pengikutnya bahwa mereka boleh pulang demi menghindari peperangan yang tak terelakkan. Tidak satupun dari mereka mundur. Mereka lalu menghabiskan malam dengan berdoa bersiap untuk esok hari.

Tepat pagi hari 10 Muharram pertempuran sengit pecah. Pasukan Al-Hurr yang semula berada di pihak Ibnu Ziad menyebrang ke pihak Husein. Husein dan pengikutnya yang kalah jumlah bisa memberi perlawanan gigih hingga tengah hari di mana mereka semua pada akhirnya gugur.

Tragedi ini memicu serangkaian peristiwa saling balas antara kedua pendukung masing-masing pihak. Disebutkan secara ringkas bahwa Khalifah Yazid meninggal dalam keadaan depresi, Umar bin Saad tewas dibunuh, Syimar yang menamatkan Husein mati mengenaskan, Gubernur Ibnu Ziad mati dipenggal. Sementara nama Husein abadi sebagai pahlawan.
Read More
      edit

Senin, 15 Oktober 2018

Ditulis 15.11 oleh with 0 comment

Cikal Bakal Bani Israil


Judul buku                : Cikal Bakal Bani Israil (Father of Israel)
Penulis & ilustrator  : Ibnu Nouval & Saifullah
ISBN                        : -

Penerbit                    : PT Bina Ilmu, Surabaya (Proyek Pengadaan Buku Perpustakaan Dikmenum)
Tahun terbit              : 1985
Jumlah halaman        : 48

Nilai                          : 3 dari 5

Barangkali cukup aneh kalau saat ini, di tengah sentimen anti-asing (baca: xenofobia) yang melanda Indonesia, pernah terbit buku yang disponsori Depdikbud bertema bangsa Israel. Bangsa yang secara teologis dibenci dan diniscayakan menjadi musuh oleh umat Islam. Tidak terkecuali di Indonesia (ataukah terutama di Indonesia?).

Itu sebabnya sewaktu aku masih kecil aku sempat dilanda kebingungan. Apakah Israel yang ada di buku ini adalah orang baiknya (the good guys), berlawanan dengan yang kudengar selama ini. Era 1990-an, masa di mana aku dibacakan (oleh Ibu) dan membaca buku ini, berita di TVRI juga sudah sering mengantagoniskan [negara] Israel atas Palestina.

Adakah toleransi di masa 1980-an jauh lebih baik dari saat ini atau kesadaran identitas agama belum sebegitu meruncing? Mungkin memang benar bahwa reformasi 1998 memberi pengaruh besar terhadap pola pikir rakyat Indonesia akibat longsornya Soeharto. Sekurangnya, seingatku, sentimen anti-Israel sudah dimulai di sejumlah majalah “islami” bawah tanah menjelang akhir 90-an.

Kurasa karena kebencian buta inilah yang membuat kisah [nabi] Yakub tidak akrab di telinga orang beragama Islam. Di situlah peran buku ini.

Buku Cikal Bakal Bani Israil ini menceritakan asal usul bangsa Israel (bani Israil). Di awali dari kelahiran Ishaq (Ishak) putra Ibrahim dengan Sarah. Ishaq menikahi Rifqah dan dikarunia dua putra kembar yang diberi nama Yakub dan Ishu. Namun Rifqah sangat pilih kasih. Dia lebih menyayangi Yakub yang lantas menyemai dengki dalam hati Ishu.

Yakub menyadarinya. Dia kemudian meminta nasehat Ishaq, ayahnya. Sang ayah menyarankan Yakub menyingkir ke negeri Faddan Araam, ke rumah pamannya yang bernama Laban untuk menikahi salah satu dari dua putrinya. Yakub menerima perintah itu dengan taat.

Dari sini petualangannya dimulai. Dan inilah momen yang paling kuingat dari buku ini. Yakub mendapat gelar “Israil” karena dia menempuh perjalanan dari Syam (Palestina) menuju Faddan Araam (di Irak) pada malam hari dengan berjalan kaki, mengunakan bintang-bintang sebagai pedoman arah. Israil artinya adalah orang yang berjalan di malam hari. Ketika siang datang dan sinar matahari mulai memanas, Yakub beristirahat di bawah naungan bongkahan batu besar. Kemudian dia melanjutkan perjalanan di kala gelap. Begitu seterusnya hingga dia tiba di rumah pamannya.


Ilustrasi garapan Saifullah sangat bergaya "luar" yang mana aku suka
Setelah bertemu pamannya, Yakub menyampaikan maksud untuk menikahi salah satu putri pamannya. Pamannya (Laban) menyetujuinya asal Yakub bersedia menggembala biri-biri mereka sebagai mahar perkawinan selama tujuh tahun ke depan. Iya, benar. Tujuh tahun demi seorang gadis!

Sesudah tujuh tahun berlalu, Laban memenuhi janji. Yakub dinikahkan dengan putri pertamanya, Laya. Tetapi Yakub menyampaikan bahwa dia sebenarnya berharap dinikahkan dengan Rahil (adik Laya) yang lebih cantik. Laban mengerti namun adat memang melarang seorang adik menikah mendahului kakaknya. Untuk itu Yakub harus menggembala biri-biri [lagi] selama tujuh tahun [lagi] jika mau mempersunting Rahil. Yakub menyanggupi.

Untuk tujuh tahun kemudian Yakub menjalani karir sebagai gembala dengan sabar. Setelah total 14 tahun dia akhirnya bisa menikahi Rahil, perempuan impiannya. Bayangkan! 14 tahun! Malu hukumnya kalau kamu sudah menyerah hanya dalam hitungan hari.

Jadi hikmahnya adalah, selain pantang mengeluh, ada baiknya kamu tidak minta secara spesifik anak orang mana yang akan kamu persunting. Siapa tahu nasibmu semujur Yakub. Sebab bukan hanya dia beristri dua bersaudari. Yakub juga menikahi dua pelayan mereka, Zulfah dan Balhah.


Tampil dwi bahasa (Indonesia dan Inggris). Yang kalau dicermati, bahasa Inggrisnya cukup alakadarnya. Mungkin dimaksudkan sebagai sarana belajar bahasa Inggris.

Dari empat istri ini lahirlah dua belas anak yang dikenal dengan nama Bani Israil. Dua di antaranya adalah Yusuf dan Bunyamin (anak Yakub dengan Rahil). Meninggalnya Rahil, membuat Yakub—lagi-lagi seperti ibunya dahulu—lebih menyayangi keduanya yang kelak berujung pada dibuangnya Yusuf oleh saudara-saudaranya yang lain akibat dengki hati.

Di sinilah buku ditutup dengan “bersambung pada buku Yusuf dan Saudara-saudaranya.” Cerita yang sudah terlalu akrab rasanya di telinga orang Islam. Yang mana mencuatkan pertanyaan, mengapa kisah Yusuf lebih populer daripada Yakub bapaknya? Padahal keduanya sama-sama diidentifikasikan sebagai bani Israil? Hmmm…
Read More
      edit

Jumat, 28 Agustus 2015

Ditulis 04.10 oleh with 2 comments

Ramadhan ala Muslim Show

Muslim Kartun

Muslim Cartoon
Goresan tangan Noredine plus tanda tangan

Judul buku                : Ramadhan ala Muslim Show
Penulis                      : Noredine Allam & Blondin
ISBN                        : 978-602-242-259-4

Penerbit                    : Dar! Mizan, Bandung
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman         : 56

Harga beli                 : Rp. 45.000,-
Beli di                       : Gd Ajiyasa ISI Yogyakarta
Tanggal beli               : 12 Maret 2014
Nilai                          : 3,5 dari 5

Ini komik kubeli pas acara tur peluncuran buku komik Muslim Show edisi bahasa Indonesia di kampus ISI Yogyakarta (Gd. Ajiyasa). Waktu itu penulis dan ilustratornya datang langsung sehingga bisa sekalian minta tanda tangan. Bahkan bukan hanya tanda tangan tapi juga goresan gambar langsung penulisnya. Dan yang digambar pun adalah wajah pembeli (aku). Tentu saja senang sekali.

Secara teknik tidak diragukan lagi. Gaya gambarnya rapi, campuran komik Eropa dan ada sedikit pengaruh Jepang sekaligus Korea. Pewarnaan pun juga indah dengan warna-warna lembut pastel, komik ini bisa dibuat sebagai referensi dalam berkomik.

Debat hilal tiada akhir
Berisi 46 komik (kartun) strip, ia mengisahkan sulit-berat-senang-lucunya berpuasa di Perancis (tempat asal komikus yang keturunan Timur Tengah). Cerita-cerita yang diangkat bukan hanya khas terjadi di negeri asing tapi juga terjadi di negeri ini. Kadang disampaikan dengan gaya hiperbola. Maklumlah namanya juga komik kartun. Rasa kedekatan sesama muslim itu dapat terbangun dari sini. Ada pula kisah (yang sekaligus kritik) betapa menjalankan syariah agama Islam di negara sekuler tidak semudah di Indonesia. Misalnya: prasangka-prasangka terhadap muslim dan belum diterimanya hijab/jilbab bagi muslimah terutama di tempat kerja. Untuk itulah orang Islam di Indonesia mesti tiada berhenti berucap syukur. Sayangnya kenapa buku ini mesti hardcover? Nambah ketebalan aja. Jika tidak hardcover komik ini akan lebih tipis hingga separuhnya sehingga bisa memudahkan penyimpanan di rak buku.
Read More
      edit