Tampilkan postingan dengan label 1975. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1975. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Ditulis 04.08 oleh with 0 comment

Sepasar dan Satu Malam

Husein Djajadiningrat

Judul buku                : Sepasar dan Satu Malam
Penulis                      : Ny. Husein Djajadiningrat

Penerbit                    : Balai Pustaka, jakarta
Tahun terbit              : 1975 (cetakan pertama 1971)
Jumlah halaman       : 55
Gambar kulit            : Dahlan Djazh (ilustrator)

Nilai                          : 2,5 dari 5

Sepasar Satu Malam sebetulnya adalah kumpulan dongeng Nusantara. Tapi ia disajikan tidak seperti biasanya (dongeng-dongeng dalam satu buku yang seolah “lepas” satu dengan lainnya), melainkan mencoba meniru gaya legenda Seribu Satu Malam. Penceritanya tentu bukan Scheherazade kepada raja tapi...seperti mungkin telah kamu duga, seorang nenek kepada cucu-cucunya. 

Masing-masing dongeng disampaikan Si Nenek setiap malam selama “sepasar” menginap di rumah anaknya. Sepasar adalah lima hari pasaran menurut kalender Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), tapi dongeng yang disajikan berjumlah enam karena malam di hari kedatangan Nenek rangkaian dongeng langsung dimulai.

Namun,...model penceritaan inilah yang menimbulkan ketersendatan alur dan ruang. Sedikit sedikit kenikmatan kita sebagai pembaca diinterupsi oleh bukan saja perbincangan Si Nenek dengan cucu-cucunya tapi juga suasana liburan Si Nenek di rumah anaknya. Misalnya: ketika Si Nenek asyik mendongeng, tiba-tiba seorang cucunya bertanya ini-itu, memotong dongeng tanpa ada jeda tegas, mana dongeng mana obrolan santai. Bisa dibayangkan pemotongan ruang/waktu yang terjadi?

Penasaran juga sebetulnya mengapa model sub-plot yang berada di luar plot utama begitu sering dipakai di buku-buku cerita lawas era Soeharto. Hampir semua buku cerita lawas yang kumiliki memakai model ini. Penulis seolah ingin membuat suasana yang privat untuknya dengan harapan mengakrabkan situasi itu kepada pembaca tetapi sekaligus mengurangi hubungan privat pembaca dengan dongeng yang tengah disajikan.

Beberapa dongengnya sudah cukup dikenal: pada malam pertama (Kamis Pon) Nenek menceritakan “Walang Sintrong.” Joko Sembotok tinggal bersama ibunya di sebuah desa. Mereka bekerja sebagai petani sayur. Suatu hari banyak dari ketimun mereka raib dicuri. Joko pun berhasil menangkap pelakunya yang ternyata adalah seekor belalang raksasa. Joko dan ibunya hendak membunuhnya, namun Si Belalang dapat berbicara dan memohon ampun kepadanya. Joko memanfaatkan kemampuan Si Belalang ini untuk bertaruh dengan orang-orang yang lewat di jalan bahwa dia memiliki belalang yang dapat bernyanyi. Dia pun sukses memeras orang-orang yang awalnya tidak percaya sehingga dia menjadi kaya raya. Sampai suatu waktu Si Walang Sintrong tewas terinjak pengendara kuda. Joko dan Ibunya pun kembali menjadi petani sayur.



Husein Djadiningrat
bagian dalam buku dongeng "Walang Sintrong"

Malam kedua (Jumat Wage) “Paman Bangau.” Cerita klasik kecerdikan ikan yang lolos dari paruh bangau. Tapi diperpanjang sedikit dengan kisah yang tidak relevan ketika Si Bangau tidak sengaja memecahkan telur burung gemak lalu menebus kesalahannya dengan membawakan batu bata halus supaya gemak bisa bertelur lagi (?). 

Malam ketiga (Sabtu Kliwon) “Timun Mas dan Gajah Barong Mata Singa,” dongeng klasik yang kita semua sudah tahu. Malam keempat (Minggu Legi) “Panji Laras.” Lagi-lagi dongeng klasik tapi disertai Plot twist: ibu Panji Laras adalah Timun Mas. Malam kelima (Senin Pahing) “Nini Buto Ijo” alias Bawang Merah bawang Putih. Malam keenam alias terakhir (Selasa Pon) “Raja Ulat.” 

Dongeng penutup ini agak what the fuck. Saking what the fuck-nya sampai malas sebenarnya aku menyinopsiskan. Bukan saja antiklimaks (karena idealnya cerita penutup harusnya paling bagus) tapi dongeng ini anonim (tanpa nama tokoh) dan pondasi narasinya hanya berdasar pamali. Ceritanya ada seorang gadis cantik (dia hanya disebut "gadis cantik") yang somse (sombong sekali, yee kelihatan umurnya pake akronim jadul). Semua laki-laki ditolaknya. Sehingga usianya nyaris uzur. Dia pun stres dan sering tidur di emper rumah walaupun sudah dilarang orang tuanya. Dia mendapat mimpi bertemu seorang lelaki tampan yang datang melamarnya. Lelaki itu ternyata ada sungguhan, dia melamar Si Gadis lalu menikahinya. Besok harinya kedua pengantin tidak kunjung keluar dari kamar. Setelah pintu dibuka paksa Si Gadis (yang tidak 'gadis' lagi, ehm) tewas dipeluk ulat raksasa yang juga sudah mati. Si Ulat ternyata adalah jelmaan Raja Ulat. Kesimpulan Si Nenek pencerita: Jangan melangar pamali, yaitu tidur di emper rumah atau kamu akan dibunuh raja ulat. AH, Si Nenek juga lupa soal pamali, jangan akhiri dongeng dengan cerita yang what the fuck.


Read More
      edit

Rabu, 12 Agustus 2015

Ditulis 03.45 oleh with 0 comment

Anak-Anak Gembala


Suyono H.R.

Judul buku                : Anak-anak Gembala
Penulis                      : Suyono H.R.
ISBN                        : -

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1975
Jumlah halaman         : 51
Desain cover             : Bambang Prasodjo

Harga beli                 : -
Nilai                          : 4 dari 5

Buku ini adalah salah satu bacaanku semasa kanak-kanak. Berisi 14 cerpen singkat (rata-rata hanya 2,5 halaman) tentang kisah anak-anak desa yang dirangkai ilustrasi, buku ini jelas ditujukan buat anak-anak yang baru menemukan nikmatnya membaca. 

Anak-anak diajak berimajinasi tentang kehidupan di desa. Latar lokasinya yang berkisar di padang rumput, hutan, dan sungai berair jernih membawa gambaran betapa desa itu indah, sejuk, sederhana, dan dekat dengan alam sekitar. 

Buat anak kecil dari kota kecil (Singaraja, Bali) sepertiku waktu itu (sekitar 1990-an awal), buku ini adalah buku luar biasa. Gaya penulisannya padat dan ringkas, langsung ke inti masalah, dan kadang penuh kenaifan khas seorang anak kecil betul-betul membuatku merasa terikat dengan buku ini.

Banyak hal menarik dalam buku kumcerpen (yang bagiku terdengar baru), misalnya cara berburu landak orang-orang desa dengan melempari tubuh landak yang berduri memakai gelondongan batang pisang di cerpen “Berburu Landak.” 

Di cerpen “Pengalaman dalam Perjalanan” perjalanan naik bus menuju desa ternyata bisa berlangsung seru hanya dengan mengamati polah seorang penumpang gembul yang tiada berhenti melahap panganan hingga akhirnya orang itu mabok perjalanan, atau bagaimana menegangkannya kisah penangkapan pencuri dengan jala ikan di “Tukang Jala” dan manisnya batangan tebu yang diperebutkan anak-anak desa di “Gerombolan Penyerobot Tebu.”

Ilustrasi dalam buku favoritku

Pembacaan lanjut atas buku ini bisa saja memicu tafsir bahwa ia bermaksud mempromosikan betapa nikmat dan serunya kehidupan di desa, pesannya adalah: datang dan hiduplah di desa, tinggalkanlah kota yang sudah penuh sesak. Kesan ini bisa didapati dengan mudah pada cerpen “Bugel...Bugel!” dan “Sebuah Rumah di Tengah Padang,” di mana seorang anak asal kota dikisahkan datang untuk menginap di rumah saudaranya di desa. 

Tapi kesimpulan apakah buku ini ada hubungannya dengan program transmigrasi semasa Orba masih perlu digali lebih jauh—walau ada bukti ke arah sana bila menyimak rekam jejak buku-buku karya si pengarang, Suyono H.R. yang telah terbit pada sampul belakang: Membuka Daerah Baru (Pustaka Jaya) dan Bukit-Bukit Gundul (Indra Pres)—karena bisa jadi latar tempat dalam buku adalah pulau Jawa juga. Bisa jadi pula Suyono H.R. (kelahiran Yogyakarta tahun 1935) murni hanya menghadirkan ulang atau meromantisasi kehidupan(nya sendiri) di desa buat anak-anak kota. 
Read More
      edit