Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2019

Ditulis 13.10 oleh with 0 comment

Pemimpin Kuat dan Amanah


Kenang-kenangan Pemilu 2014. Buku saku dari MUI. Pada pengantarnya menyebut bahwa MUI prihatin pada 1) kemungkinan tingginya golput 2) kemungkinan terganggunya kerukunan 3) kemungkinan terjadinya konflik.

Maka dari itu 1) jangan saling merendahkan 2) jangan saling mengejek 3) jangan saling memberi nama yg tidak baik 4) jangan saling mencari kesalahan 5) jangan saling berprasangka buruk 6) jangan saling menggunjing.

Kriteria memilih pemimpin adalah kuat & amanah. Kuat sebagai panglima perang & penegak hukum. Amanah dipahami takut kpd Allah & tidak memperjualbelikan ayat Allah. Sayangnya kuat & amanah jarang ada dalam satu orang. Jadi perlu skala prioritas.

Untuk kasus perang, orang fasik tapi kuat lebih baik daripada orang soleh tapi lemah. Orang fasik yg kuat menguntungkan umat, karena kefasikannya hanya merugikan diri sendiri. Orang soleh yg lemah, kesolehannya hanya untuk diri sendiri, kelemahannya merugikan umat. Meski begitu diutamakan memilih yg lebih bermanfaat untuk jabatan itu.

Aspek kekuatan: lihat pengalamannya, visi misi, & ketika berhadapan dgn kepentingan asing. Aspek amanah: lihat mana yg lebih aspiratif terhadap umat & konsistensi terhadap janjinya. Jika sama jeleknya pilih yg paling sedikit jeleknya.

Ini adalah kriteria mencerahkan yg akan ku gunakan untuk menentukan ayam mana yg akan kubeleh & ayam mana yg akan kupertahankan. Gak ada hubungannya sama pilpres.
Read More
      edit

Selasa, 23 Mei 2017

Ditulis 21.29 oleh with 0 comment

Mereka Bunuh Munir!


Judul buku                : Mereka Bunuh Munir!
Penulis & ilustrator  : Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa
ISBN                        : -

Penerbit                    : Social Movement Institute, Yogyakarta & Kontras
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman        : 158

Harga beli                 : Rp. 29.750,-
Beli di                       : Togamas Yogyakarta
Tanggal beli              : 29 Desember 2016
Nilai                          : 4 dari 5

Mereka Bunuh Munir! (dengan tanda seru) adalah buku yang hadir dari kekecewaan yang tumbuh dari harapan akan tegaknya keadilan. Harapan yang kandas seiring turunnya SBY dan harapan baru dengan naiknya Jokowi. Terbit tepat 10 tahun setelah meninggalnya Munir dan akhir masa jabatan SBY, buku ini dengan sangat berani menggugat presiden lama (terutama jika dikaitkan kasus hilangnya laporan TPF Munir yang menghebohkan beberapa waktu lalu) dan menuntut presiden baru untuk menuntaskan kasus memalukan ini.
Gaya humor yang mak jleb
Indonesia memang punya banyak kasus pelanggaran HAM berat. Selain kasus pelenyapan orang-orang yang disangka bagian dari PKI tahun 1965, ada kasus DOM di Aceh yang memakan ribuan korban, dan tentu tragedi Mei 1998 yang menimpa etnis Tionghoa dan sejumlah aktivis HAM. Dua hal yang disebut terakhir yang menurut buku ini berujung pada dilenyapkannya Munir. Dia dibunuh karena memang “membahayakan.” Membahayakan siapa? Ya, membahayakan “Mereka.”

Komik dibuka dengan jam-jam terakhir kehidupan Munir sebelum bertolak ke Amsterdam pada tahun 2004 dan tewas mengenaskan di atas pesawat akibat diracun. Perlahan dengan sabar tapi dengan tempo penuh letupan alur komik maju ke sulitnya upaya TPF membongkar kasus pembunuhan ini, kemudian mundur kembali ke belakang menceritakan sepak terjang Munir yang membuat takut para “Elite” ketika mengosak-asik pelanggaran HAM yang mereka lakukan, sambil tetap tak melupakan sisi manusiawi Munir, teman, dan keluarganya yang sanggup membikin pembaca cepat bersimpati pada Munir.

Menariknya, sekalipun formatnya komik, dia tidak diletakkan di rak komik. Tapi agak tersembunyi menyelip di antara buku kategori Sosial (hm, kenapa coba?).

Secara teknis gaya gambar Terra (dosenku pas di DKV ISI Yogyakarta) malah terasa pas dengan tema pelanggaran hak asazi manusia dalam komik ini. Karena aku bahkan tidak tega membayangkan dan betapa tak nyamannya bila isi dalam buku ini adalah foto-foto atau setidaknya gambar realis. Goresan Mas Terra yang terkesan sederhana, kekanakan, dan kocak, bukan dengan tujuan menertawakan tragedi, bagiku memang perlu supaya pembaca dapat meredam rasa ngeri dan iba atas derita para korban yang harus mengalami hal mengerikan nan tak beradab ini.

Metode penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan aktivis dan warga Aceh saat DOM diceritakan dengan cukup detail. Diperkosa sampai hamil dan disiksa di depan kerabatnya cuma sebagian kecil dari yang dipaparkan buku ini.

Mereka (para pembunuh) yang dimaksud buku ini tidak benar-benar mengarah kepada orang tertentu, meski ada petunjuk-petunjuk yang dibangun ke arah sana. Namun komik ini dengan cerdiknya mengindikasi sesuatu yang lebih besar, pihak yang terlibat tapi seolah bersih. Termasuk mereka yang percaya pada kestabilan politik zaman Suharto yang berdasar pada tafsir sempit Pancasila versi Suharto saat dia naik ke kursi presiden dan terus dipraktikkannya lewat tangan militer.

Simak bagaimana komik ini mengutip dakwaan Jaksa dalam persidangan, bahwa motivasi Pollycarpus membunuh Munir adalah patriotisme pribadi, yaitu untuk “menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia.” Di sinilah sebenarnya menurutku letak bahaya jargon “NKRI Harga Mati” yang kerap didengungkan, menjadi tren, dan tak dipertanyakan lebih jauh, seperti apa sebetulnya NKRI Harga Mati, perlukah sampai mati jika justru melenyapkan nyawa orang yang peduli dengan NKRI?


Read More
      edit

Jumat, 28 Agustus 2015

Ditulis 04.10 oleh with 2 comments

Ramadhan ala Muslim Show

Muslim Kartun

Muslim Cartoon
Goresan tangan Noredine plus tanda tangan

Judul buku                : Ramadhan ala Muslim Show
Penulis                      : Noredine Allam & Blondin
ISBN                        : 978-602-242-259-4

Penerbit                    : Dar! Mizan, Bandung
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman         : 56

Harga beli                 : Rp. 45.000,-
Beli di                       : Gd Ajiyasa ISI Yogyakarta
Tanggal beli               : 12 Maret 2014
Nilai                          : 3,5 dari 5

Ini komik kubeli pas acara tur peluncuran buku komik Muslim Show edisi bahasa Indonesia di kampus ISI Yogyakarta (Gd. Ajiyasa). Waktu itu penulis dan ilustratornya datang langsung sehingga bisa sekalian minta tanda tangan. Bahkan bukan hanya tanda tangan tapi juga goresan gambar langsung penulisnya. Dan yang digambar pun adalah wajah pembeli (aku). Tentu saja senang sekali.

Secara teknik tidak diragukan lagi. Gaya gambarnya rapi, campuran komik Eropa dan ada sedikit pengaruh Jepang sekaligus Korea. Pewarnaan pun juga indah dengan warna-warna lembut pastel, komik ini bisa dibuat sebagai referensi dalam berkomik.

Debat hilal tiada akhir
Berisi 46 komik (kartun) strip, ia mengisahkan sulit-berat-senang-lucunya berpuasa di Perancis (tempat asal komikus yang keturunan Timur Tengah). Cerita-cerita yang diangkat bukan hanya khas terjadi di negeri asing tapi juga terjadi di negeri ini. Kadang disampaikan dengan gaya hiperbola. Maklumlah namanya juga komik kartun. Rasa kedekatan sesama muslim itu dapat terbangun dari sini. Ada pula kisah (yang sekaligus kritik) betapa menjalankan syariah agama Islam di negara sekuler tidak semudah di Indonesia. Misalnya: prasangka-prasangka terhadap muslim dan belum diterimanya hijab/jilbab bagi muslimah terutama di tempat kerja. Untuk itulah orang Islam di Indonesia mesti tiada berhenti berucap syukur. Sayangnya kenapa buku ini mesti hardcover? Nambah ketebalan aja. Jika tidak hardcover komik ini akan lebih tipis hingga separuhnya sehingga bisa memudahkan penyimpanan di rak buku.
Read More
      edit

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ditulis 04.34 oleh with 1 comment

Dunia Simon


Judul buku                : Dunia Simon
Penulis                      : Wihambuko Tiaswening Maharsi
ISBN                        : 978-602-70286-0-9

Penerbit                    : Tan Kinira Books, Yogyakarta
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman         : 114
Desain cover             : Gamaliel Budiharga

Harga beli                 : Rp. 50.000,-
Beli di                       : Penerbitnya langsung
Tanggal beli               : 8 Mei 2014
Nilai                          : 4 dari 5

Aku termasuk pembaca awal yang beruntung waktu buku ini belum berbentuk buku. Dan cerita yang kubaca pertama kali adalah "Pesan", yang mana menurutku adalah cerpen terbaik di buku ini, yang kemudian membuatku me”mesan” buku ini langsung pada penerbitnya. Mungkin karena itulah cerpen ini diletakkan paling akhir sebagai penutup.

Buku kumcerpen ini adalah kitab cinta-nya seorang perempuan yang secara keseluruhan aku tangkap karakter cewek dalam buku ini sinis dan jutek, belum lagi dia ini pencinta rokok. Tapi anehnya aku sebagai pembaca bisa dibawa masuk ke dalam tulisannya. Kenapa? Entah ya, barangkali karena dialog-dialog dan monolognya atau obrolan serta interaksi si cewek dengan karakter lain yang memancing rasa penasaran dan rasa simpati sekaligus kesal (atau kasihan sebenarnya? :) sama si karakter yang sepertinya personifikasi penulisnya langsung. Padahal penulisnya sendiri seperti pribadi yang berbeda dari karakter dalam buku. Aneh gak?

Buku juga adalah soal seni. Tata letak dalam buku ini juga salah satu poin yang membuatnya jadi unik bin antik. Ada 10 cerpen yang ajaibnya sama dengan jumlah huruf dari judul itu sendiri: D-U-N-I-A S-I-M-O-N. Satu cerpen seolah diwakili satu huruf dalam judul dan juga ilustrasinya, meskipun aku sendiri tidak mengerti ada pesan apa di baliknya. Murni kebetulan? Kurasa tidak. Karena itu kubilang buku ini juga soal seni, seni penataan.

Cerpen lain yang aku suka: Rokok, Dan gadis Itu Datang, The Stranger
Read More
      edit