Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2018

Ditulis 10.00 oleh with 0 comment

Affandi Pelukis


Judul buku                : Affandi Pelukis
Penulis                      : Nasjah Djamin

Penerbit                    : Aqua Press Bandung
Tahun terbit              : 1979 (cetakan pertama: 1977)
Jumlah halaman       : 84

Nilai                          : 3 dari 5

Satu lagi buku yang masuk kategori “buku cerita” hasil proyek Depdikbud zaman Soeharto. Aku sebutkan di awal karena diam-diam out of nowhere buku ini menjejalkan pujian kepada Soeharto, presiden ketika itu, pada pertengahan buku di saat membicarakan Affandi. 

“Anak desa pun dapat jadi orang, asal rajin dan tekun belajar. Anak desa pun kelak dapat menjadi Menteri, jadi Jenderal, malah jadi Presiden. Seperti halnya Pak Harto, Presiden Negara Republik Indonesia kita yang sekarang!” (Djamin, 1979:44).

Dan, lagi-lagi tipe karangan buku ini persis seperti buku cerita lain yang sudah kuulas sebelumnya di blog ini: Ada sub-plot tokoh utama abal-abal dibangun menuju tokoh utama sebenarnya, dalam hal ini Affandi, namun sub-plot ini posisinya kurang penting walau bukannya tidak relevan atau tidak relatable. Karena setidaknya tokoh sub-plot ini punya latar dan kepribadian.

Pada mulanya kita diperkenalkan kepada seorang anak petani yang masih duduk di kelas 6 SD bernama Agus. Dia tinggal di desa Besi (baca: mbesi) di sekitaran Jalan Kaliurang Yogyakarta. Bakat menggambarnya mengagumkan sehingga suatu kali gurunya memujinya bahwa dia bisa seterkenal Affandi sang pelukis. Dari situ rasa penasaran dan kagum Agus kepada Affandi tumbuh.

Suatu hari pamannya (yang tanpa nama) datang, dia mengajak Agus berkunjung ke Museum Affandi berboncengan naik sepeda motor butut. Setidaknya kita mendapat gambaran seperti apa suasana Jogja akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an (buku ini pertama kali terbit 1977) yang terasa sangat syahdu: kala itu penduduk desa naik cikar (gerobak sapi) ke kota untuk plesiran, jika tidak ya naik bus atau colt yang mulai banyak mondar-mandir dari Yogyakarta-Kaliurang (Djamin, 1979:19). Pemandangan yang sudah lenyap hari ini.

Tapi sayang eh sayang museumnya sedang tutup karena Pak Affandi sedang pergi melukis di Bali. Tuh kan sub-plotnya bertele-tele. Kunjungan dibatalkan, mereka kemudian berbelok ke kos-kosan (disebut pondokan) si Paman dan bertemu dengan [Jeng] Juminten, teman (pacar?) Si Paman. Dia adalah seorang pengarang amatir yang secara kebetulan sedang menulis tentang Affandi. Draf tulisan berjudul “Pelukis Besar Affandi” ini kemudian dibaca oleh Agus (alias kita) dan baru muncul di halaman 33 (hingga 78) dari total 84 halaman!

Membaca draf tulisan Juminten bagai membaca biografi a la Wikipedia. Ringkas, padat, dan seolah tidak ada penyuntingan atas tata kalimat, bahkan urutan peristiwanya meloncat-loncat. Sehingga terbitlah kecurigaanku bahwa draf tulisan ini memang tulisannya ‘Juminten’ sungguhan (maksudnya Juminten benar-benar ada). Mungkin dia temannya Djamin, penulis buku ini.

Inti cerita kurang lebih berkutat pada kerasnya hidup yang dijalani Affandi hingga sukses dikenal sebagai pelukis tetapi tetap bersahaja. Kita diperkenalkan pada masa kecil Affandi yang sudah hobi menggambar. Ayah dan saudara-saudaranya memang menentang hasrat melukis Affandi tersebut, namun dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa menghidupi diri, anak, dan istrinya dari hasil melukis setahap demi setahap. Mulanya tentu tidak mudah, sekolah sengaja dia tinggalkan, pekerjaannya pun serabutan, mulai dari guru, tukang cat, penggambar poster reklame, sampai penjaga pintu bioskop sambil terus melukis meskipun tidak kunjung laku.

Keinginannya untuk belajar melukis di sekolah khusus gambar tidak pernah kesampaian. Sempat dia ingin berguru kepada Basuki Abdullah tetapi pelukis terkenal itu tidak berkenan. Affandi kemudian bergabung di Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang terdiri dari pelukis-pelukis yang tidak diakui oleh Belanda karena mereka hanya pelukis otodidak.

Di masa pendudukan Jepang, Affandi bergabung dengan PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) lalu ikut pula dalam SIM (Seniman Muda Indonesia). Di sana dia mulai melukis keadaan rakyat yang melarat dan menderita: romusha yang tubuhnya kurus kering, gelandangan, kuda andong yang kurus, pedagang pasar yang dekil. Dia juga maju ke medan perang untuk melukis suasana pertempuran.

Ketika agresi militer Belanda pecah, Affandi sekeluarga mengungsi ke Jakarta. Di kota yang diduduki Belanda dia tinggal di sebuah garasi di Perguruan Taman Siswa, satu dari wilayah RI di Jakarta selain Gedung Proklamasi (data sejarah bung! RI masih punya wilayah di tengah kekuasaan Belanda). Di situlah dia berjumpa dan melukis Chairil Anwar.

Sesudah kemerdekaan Affandi mendapat beasiswa di sebuah sekolah seni di India. Begitu sampai pihak kampus menilai bahwa kemampuan Affandi sudah sempurna sehingga tidak perlu sekolah lagi. Dia memutuskan untuk berkeliling kota-kota India lanjut ke Eropa sambil terus melukis. Dari sini namanya mulai dikenal publik.

Sekembalinya ke Indonesia, dia ditawari mengajar di ASRI Yogyakarta dan berpameran di Jepang, Brasil, Meksiko, dan Amerika. Di negara yang disebut terakhir ini dia sempat menjadi profesor di Ohio State University. Dari hasil menjual lukisannya dia membangun Museum Affandi di tepi kali Gajahwong. Seperti tema yang senantiasa berulang: kesusahan, keterlunta-luntaan, dan kehinaan yang dialami tokoh utama pun berbuah manis. SELESAI.

Seusai membaca draf tulisan Jum, Si Agus bertandang ke Museum Affandi dan menyimak deskripsi beberapa lukisan via mulut pamannya dan Mbak Jum. Tentu tidak lupa untuk bertemu langsung dengan idolanya tersebut dan mendapat wejangan: “Yang rajin belajar seperti kakek ini. Sudah tua masih belajar, dan ingin belajar terus!”

halaman terakhir yang berisi pesan Affandi kepada kita
Iya, iya. Agus harus rajin belajar sampai tua. KITA pun harus terus belajar sampai tua.
Read More
      edit

Rabu, 21 November 2018

Ditulis 16.42 oleh with 6 comments

Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal


Judul buku                : Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal
Penulis                      : Dj. Hasugian

Penerbit                    : CV Rosda Karya Bandung
Tahun terbit              : 1982 (cetakan pertama: 1981)
Jumlah halaman       : 58
Ilustrasi                    : Asmadi

Nilai                          : 3 dari 5


Buku cerita ini sebetulnya punya liku kisah menarik. Hanya saja gaya penyampaiannya agak tipikal buku anak-anak masa itu (1980-1990-an) yang memang menjadi target pembacanya (salah satunya aku ketika masih kecil). Gaya bercerita yang kumaksud adalah dengan menempatkan pembaca sebagai pengamat/penonton atas tokoh utama sebenarnya yang dijadikan suri-tauladan.


Tokoh yang mulanya diperkenalkan kepada pembaca adalah Kamal, seorang anak berprestasi tinggi. Catatan: Kamal adalah kita, di mana kita diharapkan mengidentifikasikan diri dengannya agar hendaknya kita berprestasi juga (?). Itulah sebabnya Kamal dijanjikan oleh ayahnya diantar ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan teman ayahnya yang luar biasa sukses, Pak Gono agar dia (baca:kita) bisa mendengar kisah suksesnya.

Pada pertemuan Kamal dengan Pak Gono inilah terjadi peralihan tokoh utama dari Kamal ke Gono muda. Layaknya perpindahan lari estafet kepada pelari yang lebih jago daripada pelari sebelumnya, kisah Pak Gono semasa muda menderu seru kaya petualangan tidak seperti Kamal yang super-bland, kaku, dan tidak menarik.

Pola cerita dengan model semacam ini mungkin hanya akrab buat anak-anak yang tumbuh di masa 1980-1990-an. Sebagian buku cerita yang kuulas di blog ini juga punya pola serupa. Pembaca harus selalu menengadahkan kepala memandang kagum ketika orang yang ada di atas itu memberimu wejangan. Iya, aku sedang menudingmu Mbah Harto!

Diangkat dari kisah nyata Gono Tirtowidjojo, seorang pengusaha ekspedisi kapal, yang belakangan aku baru tahu kisahnya pernah difilmkan dengan judul Mustika Ibu dan dibintangi Dedy Sutomo, buku ini berfokus pada hardship-nya Gono muda. Perjuangan penuh derita Gono diceritakan cepat tanpa basa-basi jika tidak mau dibilang terburu-buru, mulai dari dibuang keluarganya, merantau ke berbagai kota, bergonta-ganti profesi, ikut perang kemerdekaan, sampai dia sukses menjadi pengusaha.

Gono adalah seorang putra Sunda asli yang dipungut keluarga Cina (maksudnya Tionghoa). Ibu kandungnya yang miskin menjual Gono ketika masih bayi karena tidak kuat merawatnya.

Hidup sebagai anak pungut membuat Gono menderita lahir batin akibat siksaan orang tua angkat. Dari seorang tukang bajigur Gono mengetahui mengenai ibu kandungnya. Dia pun menemui ibu kandungnya lalu bertekad merantau ke Batavia untuk merubah nasib, pergi dari keluarga yang telah membesarkannya.

Di Batavia dia kerja serabutan dan hidup menggelandang. Sesudah bekerja menjadi kuli panggul beberapa saat. Dia diajak bekerja di sebuah toko di Lampung oleh seorang pedagang tembakau.

Sewaktu Perang Aisa Timur Raya pecah, Jepang memasuki Indonesia menggantikan Belanda. Jepang merekrut banyak tenaga untuk keperluan perang. Salah satunya Gono yang bekerja pada dinas pelayaran Jepang di mana karirnya melejit cepat.

Menyerahnya Jepang dalam perang membuat Belanda kembali ke Indonesia. Dengan keahlian nahkodanya Gono menjadi seorang penyelundup senjata bagi para pejuang kemerdekaan. Dia lalu bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat sampai dalam sebuah pertempuran dia tertangkap dan disiksa oleh Belanda supaya mau memberitahukan posisi TKR, namun Gono tetap bertahan.

Pada suatu waktu Gono berhasil meloloskan diri. Akibat siksaan yang dialaminya Gono menderita sakit yang membuatnya tidak bisa ikut berjuang lagi hingga perang usai. Selepas perang Gono memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang perkapalan untuk membangun usaha ekspedisi kapal muatan. Usahanya maju mengalami pasang surut.

Suatu hari dia ditawari untuk membeli sebuah kapal yang terbenam di dasar laut Surabaya. Yang mengejutkan Gono adalah nama kapal itu sama dengan nama kapal yang dilihat di mimpinya: Kota Silat. Percaya bahwa ini suatu pertanda, dia membeli dan memperbaiki kapal itu. Dan pada pelayaran pertamanya menuju Jakarta dia sendiri yang menjadi nahkodanya.

Kapal pertamanya tersebut membawa keberuntungan. Dari satu kapal kini Gono memiliki 12 kapal lain. Usahanya sukses, dia kaya raya, dan menerima penghargaan dari gubernur Jakarta dan presiden. Cerita ditutup dengan Kamal yang bangun keesokan harinya bersiap untuk melihat dok kapal Pak Gono.

Cukup mengasyikkan ya kisahnya. Sayangnya ya itu terasa disingkat-singkat. Memang sih kisah sukses di atas memang sangat klise, klasik, dan serba sudah diduga. Tipikal cerita “sengsara membawa nikmat.” Model cerita yang ngetren kala itu, tidak seperti sinetron sekarang yang serba hedonisme. Kenapa? Gak tau ya. Mungkin karena rata-rata rakyat Indonesia ketika itu memang hidup kekurangan (kayak sekarang enggak aja).

Kalau ada yang menarik bagiku adalah upaya si narator kisah (yaitu Pak Gono) mengelak/menampik/menyangkal ke-Tionghoa-annya. Entah memang Gono sendiri yang menuturkan kepada penulis (Dj Hasugian) bahwa dia bukan Tionghoa atau adakah masyarakat saat itu diam-diam anti Tionghoa?

Read More
      edit

Rabu, 07 November 2018

Ditulis 20.00 oleh with 0 comment

Husein Pahlawan dan Syahid Besar



Judul buku                : Husein, Pahlawan dan Syahid Besar
Penulis                      : Nawawi Rambe (penyadur) dari Husain The Great Martyr (Fazl Ahmad)

Penerbit                    : Depdikbud, PT Bumi Restu (Percetakan)
Tahun terbit              : 1985 (cetakan pertama: 1982)
Jumlah halaman       : 70

Nilai                          : 3 dari 5


Buatku cukup aneh juga ketika hari ini kaum Syiah terus dianggap sesat dan disudutkan oleh mayoritas penganut Islam Sunni tanpa kecuali di Indonesia, namun melupakan kenyataan bahwa pernah terbit buku cerita buah proyek pengadaan buku Depdikbud di mana ia mengisahkan betapa heroiknya kematian Husein bin Ali bin Abu Thalib.

Husein memang cucu nabi Muhammad—tokoh yang dihormati kalangan Sunni—tapi dia juga imam Syiah yang berperan penting dalam haluan teologi Syiah. Aliran Islam yang dicap sesat oleh sebagian penganut Sunni. Mungkin karena khawatir akan ke-syiah-an tersebut. Terdapat upaya tersurat untuk lebih menghubung-hubungkan perjuangan Husein dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia (via jalur militer?) di bagian prakata.

“Kerelaan Husein mengorbankan segala-galanya, telah mengangkat martabatnya sebagai pribadi yang luhur, sebagai teladan dan lambang kebenaran dalam perjuangan abadi melawan kezaliman…tokoh-tokoh pejuang demikian ini banyak pula terdapat di persada tanah air kita, terutama pada masa puncak perjuangan merebut kemerdekaan Negara Indonesia tercinta.”

Kurasa buku ini dibeginikan karena posisinya yang tak lain adalah saduran dari buku lain berjudul Husain The Great Martyr karya Fazl Ahmad yang kita—aku tidak tahu seperti apa isinya. Sehingga ketokohan Husein di buku ini barangkali direduksi oleh penyadur/penulis Nawawi Rambe ke dalam bingkai perjuangannya atas suatu cita-cita yang “setara” dengan perjuangan rakyat Indonesia dan karenanya layak menjadi teladan generasi muda Islam di masa pembangunan (soal pembangunan ini disebut pada prakata).

Tapi jika ada satu yang memikat dari buku ini bagi pembaca kiranya adalah universalitas nilai heroisme, terlepas dari dia itu golongan Sunni atau Syiah. Kita jelas melihat betapa kesyahidan (kemartiran) seseorang  dirayakan melintasi latar sejarah, budaya, bangsa, negara, dan agama.

Alur buku cerita ini persis sama dengan narasi umum pertempuran di Karbala (battle of Karbala) yang bermula dari permusuhan antara pendukung Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan terkait kebijakan khalifah Usman bin Affan yang dinilai oleh Ali terlalu bersifat kekeluargaan.

Naiknya Yazid sebagai khalifah menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam. Selain karena statusnya yang adalah putra Muawiyah (khalifah sesudah Hasan bin Ali mengundurkan diri), watak Yazid yang gemar berfoya-foya menjadi pangkal penyebabnya. Ketika Yazid menuntut sumpah setia Husein kepadanya, Husein menolak dan melarikan diri ke Mekkah.

Dukungan dari penduduk Kufah (Irak) agar Husein menjatuhkan Yazid mengalir deras. Husein beserta pengikutnya pun berangkat ke Kufah dari Mekkah meski mendapat tentangan dari sahabat-sahabatnya. Mendengar ini gubernur Ibnu Ziad menyiapkan pasukan untuk menghadang rombongan Husein.

Di padang Karbala, pergerakan rombongan Husein ditahan oleh pasukan Al-Hurr. Mereka tidak diizinkan melanjutkan maupun kembali ke Mekkah. Perundingan yang ditawarkan Husein dengan diperantarai Umar bin Saad ditolak Ibnu Ziad. Umar bin Saad yang diperintahkan menggempur rombongan Husein menawarkan agar Husein menyerah tanpa syarat. Husein meminta waktu hingga keesokan harinya.

Malam itu Husein menyampaikan kepada pengikutnya bahwa mereka boleh pulang demi menghindari peperangan yang tak terelakkan. Tidak satupun dari mereka mundur. Mereka lalu menghabiskan malam dengan berdoa bersiap untuk esok hari.

Tepat pagi hari 10 Muharram pertempuran sengit pecah. Pasukan Al-Hurr yang semula berada di pihak Ibnu Ziad menyebrang ke pihak Husein. Husein dan pengikutnya yang kalah jumlah bisa memberi perlawanan gigih hingga tengah hari di mana mereka semua pada akhirnya gugur.

Tragedi ini memicu serangkaian peristiwa saling balas antara kedua pendukung masing-masing pihak. Disebutkan secara ringkas bahwa Khalifah Yazid meninggal dalam keadaan depresi, Umar bin Saad tewas dibunuh, Syimar yang menamatkan Husein mati mengenaskan, Gubernur Ibnu Ziad mati dipenggal. Sementara nama Husein abadi sebagai pahlawan.
Read More
      edit

Minggu, 04 November 2018

Ditulis 20.52 oleh with 2 comments

Aku Diterjunkan di Irian Jaya


Judul buku                : Aku Diterjunkan di Irian Jaya
Penulis                      : A. Soeroto

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1974
Jumlah halaman       : 52
Gambar oleh             : C.Z. Dupe

Nilai                          : 3 dari 5

Buku ini lagi-lagi seperti sejumlah postingan di blog ini adalah bacaan dari masa kecilku. Jumlah halamannya hanya 50-an. Paslah untuk anak-anak yang baru mulai keranjingan membaca. Lagipula alur ceritanya mudah dipahami, liniear, cukup seru dan menegangkan buatku ketika itu. Meski sebenarnya kalau dibaca lagi sekarang cerita dalam buku ini boleh dibilang terlalu sederhana dan minim detail.

Mengisahkan mengenai pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Kita dibawa menyimak langsung pengalaman dari sudut pandang si “aku,” seorang prajurit muda bernama Gus (Agus?), dengan gaya penyampaian mirip diari atau jurnal perang.

Cerita diawali dari Gus dan kawannya sesama prajurit yang dipersiapkan di sebuah lokasi di dekat kota Ambon untuk dikirim ke Irian Barat (begitulah penyebutannya, bukan Papua) guna berkonfrontasi lawan Belanda. Suatu malam mereka diberangkatkan dengan menumpangi pesawat Hercules di atas langit Irian. Dalam gelap semua prajurit diterjun-payungkan. Sialnya beberapa kawan mereka ditembaki Belanda dari bawah.

Gus mendarat dengan selamat, namun dia pingsan. Payung Gus ternyata menyangkut di sebuah pohon yang sangat tinggi. Setelah berhasil turun dia menyusuri pekatnya hutan ke arah utara sesuai perintah atasannya. Dia pun bertemu dengan kawan-kawannya. Mereka sepakat untuk tidak meneruskan ke utara, melainkan ke arah pantai.


Pihak Belanda menjadi musuh yang hadir tanpa wajah
Sempat lolos dari sergapan pasukan Belanda, mereka terus menembus hutan hingga berhari-hari. Letih, kehabisan bekal dan amunisi mereka secara kebetulan menjumpai penduduk lokal dan memintanya menunjukkan jalan perkampungannya.

Di perkampungan itu mereka berjumpa dengan kawan-kawan prajurit yang telah lebih dahulu bernaung di sana. Mereka semua diterima dengan baik oleh penduduk kampung. Hingga kemudian memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke pantai.

Dengan dipandu salah seorang penduduk para prajurit itu menuju pantai. Belum jauh mereka segera menemukan selebaran yang menerakan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda serta akan adanya penyerahan Irian asalkan memang rakyat Irian sendiri yang memintanya (refenrendum?).

Awalnya mereka curiga bahwa selebaran ini hanya tipuan Belanda. Tetapi setelah salah seorang dari mereka mencari kabar ke Kaimana terbukti bahwa edaran tersebut memang benar adanya. Mereka semua pun gembira dengan kemenangan ini dan bersiap meninggalkan Irian. Sudah begitu saja. Cerita berakhir di sini. Cukup sederhana kan?

Namun, justru di situlah yang menarik. Buku ini sama sekali absen dari intrik politik dibalik upaya merebut Irian Barat. Bahkan abai pada dimensi kepentingan yang lebih besar, siapa inisiator (Soekarno), siapa komandannya (Soeharto), apa kepentingan misi ini.


Penduduk Irian digambarkan sangat terbelakang. Yang meski ramah dan hangat membuat para prajurit tidak betah berlama-lama menetap di kampung mereka

Karakter si tokoh utama, Gus, terasa sangat naif dan lugu. Gus dan kawan-kawan sesama prajurit di cerita ini tampak tidak tahu apa yang mereka harus perbuat (no idea, no clue istilahnya), atau apa sebenarnya misi mereka. Di dalam buku hanya diindikasikan bahwa mereka di situ hanya untuk membuat pihak Belanda cemas.

Adakah kenaifan tersebut disengaja oleh penulis karena buku ini ditujukan untuk anak-anak? Mungkin saja kurasa.

Bagiku sungguh menggelitik karena petualangan yang dialami Gus dan kawan-kawannya sangat jauh dari heroisme ideal atau patriotisme berapi-api bela negeri. Gus dan kawan-kawannya tampak sangat manusiawi: mereka merasakan keraguan, kebingungan, dan ketakutan menghadapai dua musuh sekaligus: hutan rimba dan Belanda yang mengintai dari kerimbunan. Pendeknya, buku ini adalah cerita kecil mengenai prajurit kecil di tengah masalah besar.

Jika apa yang ada di dalam cerita ini adalah gambaran akurat dan otentik mengenai peristiwa di Irian (Papua) yang sebenarnya. Maka buku ini perlu menjadi dokumen sejarah alternatif untuk  menyibak apa sebenarnya yang terjadi ketika itu di mata prajurit berpangkat rendah. Bahwa peristiwa sejarah dan militeristik nyatanya bukan soal patriotisme semata tapi juga bagaimana menjadi manusia biasa.
Read More
      edit

Selasa, 23 Mei 2017

Ditulis 21.29 oleh with 0 comment

Mereka Bunuh Munir!


Judul buku                : Mereka Bunuh Munir!
Penulis & ilustrator  : Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa
ISBN                        : -

Penerbit                    : Social Movement Institute, Yogyakarta & Kontras
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman        : 158

Harga beli                 : Rp. 29.750,-
Beli di                       : Togamas Yogyakarta
Tanggal beli              : 29 Desember 2016
Nilai                          : 4 dari 5

Mereka Bunuh Munir! (dengan tanda seru) adalah buku yang hadir dari kekecewaan yang tumbuh dari harapan akan tegaknya keadilan. Harapan yang kandas seiring turunnya SBY dan harapan baru dengan naiknya Jokowi. Terbit tepat 10 tahun setelah meninggalnya Munir dan akhir masa jabatan SBY, buku ini dengan sangat berani menggugat presiden lama (terutama jika dikaitkan kasus hilangnya laporan TPF Munir yang menghebohkan beberapa waktu lalu) dan menuntut presiden baru untuk menuntaskan kasus memalukan ini.
Gaya humor yang mak jleb
Indonesia memang punya banyak kasus pelanggaran HAM berat. Selain kasus pelenyapan orang-orang yang disangka bagian dari PKI tahun 1965, ada kasus DOM di Aceh yang memakan ribuan korban, dan tentu tragedi Mei 1998 yang menimpa etnis Tionghoa dan sejumlah aktivis HAM. Dua hal yang disebut terakhir yang menurut buku ini berujung pada dilenyapkannya Munir. Dia dibunuh karena memang “membahayakan.” Membahayakan siapa? Ya, membahayakan “Mereka.”

Komik dibuka dengan jam-jam terakhir kehidupan Munir sebelum bertolak ke Amsterdam pada tahun 2004 dan tewas mengenaskan di atas pesawat akibat diracun. Perlahan dengan sabar tapi dengan tempo penuh letupan alur komik maju ke sulitnya upaya TPF membongkar kasus pembunuhan ini, kemudian mundur kembali ke belakang menceritakan sepak terjang Munir yang membuat takut para “Elite” ketika mengosak-asik pelanggaran HAM yang mereka lakukan, sambil tetap tak melupakan sisi manusiawi Munir, teman, dan keluarganya yang sanggup membikin pembaca cepat bersimpati pada Munir.

Menariknya, sekalipun formatnya komik, dia tidak diletakkan di rak komik. Tapi agak tersembunyi menyelip di antara buku kategori Sosial (hm, kenapa coba?).

Secara teknis gaya gambar Terra (dosenku pas di DKV ISI Yogyakarta) malah terasa pas dengan tema pelanggaran hak asazi manusia dalam komik ini. Karena aku bahkan tidak tega membayangkan dan betapa tak nyamannya bila isi dalam buku ini adalah foto-foto atau setidaknya gambar realis. Goresan Mas Terra yang terkesan sederhana, kekanakan, dan kocak, bukan dengan tujuan menertawakan tragedi, bagiku memang perlu supaya pembaca dapat meredam rasa ngeri dan iba atas derita para korban yang harus mengalami hal mengerikan nan tak beradab ini.

Metode penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan aktivis dan warga Aceh saat DOM diceritakan dengan cukup detail. Diperkosa sampai hamil dan disiksa di depan kerabatnya cuma sebagian kecil dari yang dipaparkan buku ini.

Mereka (para pembunuh) yang dimaksud buku ini tidak benar-benar mengarah kepada orang tertentu, meski ada petunjuk-petunjuk yang dibangun ke arah sana. Namun komik ini dengan cerdiknya mengindikasi sesuatu yang lebih besar, pihak yang terlibat tapi seolah bersih. Termasuk mereka yang percaya pada kestabilan politik zaman Suharto yang berdasar pada tafsir sempit Pancasila versi Suharto saat dia naik ke kursi presiden dan terus dipraktikkannya lewat tangan militer.

Simak bagaimana komik ini mengutip dakwaan Jaksa dalam persidangan, bahwa motivasi Pollycarpus membunuh Munir adalah patriotisme pribadi, yaitu untuk “menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia.” Di sinilah sebenarnya menurutku letak bahaya jargon “NKRI Harga Mati” yang kerap didengungkan, menjadi tren, dan tak dipertanyakan lebih jauh, seperti apa sebetulnya NKRI Harga Mati, perlukah sampai mati jika justru melenyapkan nyawa orang yang peduli dengan NKRI?


Read More
      edit

Kamis, 03 September 2015

Ditulis 04.07 oleh with 0 comment

The Kite Runner (Komik)

Khaled Hosseini

Komik Kite Runner
Judul buku                : The Kite Runner
Penulis                      : Khaled Hosseini
ISBN                        : 978-602-7662-09-4

Penerbit                    : Secondwind, Mizan, Bandung
Tahun terbit              : 2013
Jumlah halaman        : 136
Ilustrator                   : Fabio Celoni dan Mirka Adolfo

Harga beli                 : Rp. 10.000,-
Beli di                       : Yogyakarta
Tanggal beli               : 2 Maret 2014
Nilai                          : 3 dari 5

Terlepas dari masalah teknis penulisan akibat bahasa yang bertumbukan, novel The Kite Runner adalah salah satu novel terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya manis, tentang persahabatan dua anak kecil berbeda kelas yang harus terputus karena suatu tragedi kelam dan perang di Afganistan. Filmnya sendiri aku sudah nonton dan menurutku sama baiknya dengan novel. Kupikir hanya soal waktu sampai ia muncul dalam versi komik. Tapi walaupun berformat komik ia tetap bukan diperuntukkan bagi anak-anak.

Apa yang kulihat? Seluruh hidupku
Komik ini secara teknis tidak diragukan lagi keindahannya juga pewarnaannya yang digarap serius. Sayangnya aku merasa komik ini amat sangat bergantung kepada dua media yang sudah dikenal lebih dahulu: novel dan film. Sehingga pembaca yang sudah akrab dengan cerita The Kite Runner tidak akan menemukan kesulitan menyimaknya. Tapi aku ragu komik ini akan cukup jernih bagi pembaca yang belum pernah membaca novel atau menonton filmnya terutama mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Hassan dan anaknya (Sohrab) dalam hubungannya dengan Si Assef, orang sadis setengah gila yang jadi pejabat penting Taliban.
Read More
      edit

Selasa, 18 Agustus 2015

Ditulis 05.07 oleh with 0 comment

Menuju Puncak Kemegahan

Slamet Muljana
Judul buku                : Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit
Penulis                      : Prof. Dr. Slamet Muljana
ISBN                        : 979-8451-35-X

Penerbit                    : LKiS, Yogyakarta
Tahun terbit              : 2012 (cetakan pertama 2005), terbit pertama 1965 (Balai Pustaka)
Jumlah halaman         : 276
Desain cover             : Si Ong

Harga beli                 : Rp. 50.000,-(satu paket berisi 3 buku)
Beli di                       : Jogja Book Fair 2012
Tanggal beli              : 8 November 2012
Nilai                          : 4 dari 5

Melihat riwayat naik cetak buku ini oleh penerbit LkiS dapat dibaca bagaimana ia diterbitkan ulang setelah munculnya tren novel epos tentang kerajaan-kerajaan Nusantara yang dimulai dari novel Gajah Mada-nya Langit Kresna Hariadi (2004). Oleh LKiS buku ini pertama dicetak tahun 2005, hanya berselang satu tahun sesudah terbitnya novel Gajah Mada yang beroleh sambutan hangat pembaca. Buku yang kumiliki adalah cetakan ke 5 (tahun 2012) yang merupakan puncak arus novel-novel epos. Buku ini kubeli satu paket bersama dua buku Slamet Muljana lainnya (Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, dan Sriwijaya) seharga Rp. 50 ribu. Sebuah tawaran harga yang memikat tentu saja.

Buku ini dapat disebut sebagai salah satu buku wajib untuk belajar lebih dalam tentang Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan (konon) terbesar di Nusantara dan (dimitoskan) menjadi peletak awal konsep nasionalisme ke-Indonesia-an. Memaparkan secara runtut dan detail dari Kerajaan Singasari, awal berdiri Majapahit, pemberontakan Rangga Lawe, Lembu Sora, Nambi, Kuti, hingga sumpah Palapa yang terkenal yang berujung pada peristiwa Pasunda (Bubat). Menurut Muljana penyebab insiden Bubat dan pemberontakan Ranggalawe tidak disertakan dalam Negarakertagama adalah karena kedua peristiwa itu memalukan dan tidak cocok masuk dalam pujasastra. Buku ini juga mendalami bentuk dan sistem pemerintahan yang bersumber pada Kakawin Negarakertagama yang ditulis Prapanca.




Read More
      edit

Rabu, 12 Agustus 2015

Ditulis 14.11 oleh with 0 comment

Historiografi Seni Indonesia


Judul buku                : Historiografi Seni Indonesia
Penulis                      : Wiyoso Yudoseputro
ISBN                        : 979-3507-54-3

Penerbit                    : Penerbit ITB, Bandung
Tahun terbit              : 2005
Jumlah halaman        : 65

Harga beli                 : Rp. 10.000,-
Beli di                       : Pesta Buku Jogja, Gd. Wanitatama, Yogyakarta
Tanggal beli              : 6 Februari 2012
Nilai                          : 3 dari 5 

Buku ini mengulas perkembangan sejarah seni rupa Indonesia. Penulisnya menekankan pentingnya historiografi (penulisan sejarah) dalam upaya mengenali bentuk seni masa lalu dalam hubungannya dengan budaya-budaya lain (luar) yang memengaruhinya dalam rangka melihat seni hari ini dan semasa mendatang. Cukup layak sebagai buku pegangan mahasiswa kampus seni.


Read More
      edit

Rabu, 19 Juni 2013

Ditulis 13.54 oleh with 0 comment

Catuspatha Arkeologi Majapahit


istana majapahit
apa itu "Catuspatha?"

Judul buku                : Catuspatha Arkeologi Majapahit
Penulis                      : Agus Aris Munandar
ISBN                        : 978-979-3258-93-5

Penerbit                    : Wedatama Widya Sastra, Jakarta
Tahun terbit              : 2011
Jumlah halaman         : 324
Desain cover             : Agam Sulaiman

Harga beli                 : Rp. 55.000,-
Beli di                       : Toga Mas, Yogyakarta
Tanggal beli               : 22 April 2012
Nilai                          : 4 dari 5

Buku yang bersifat "buku lanjutan" dari buku-buku yang mengulas Majapahit karya Agus Aris Munandar. Kali ini fokus ke arsitektur, baik rumah-rumah pada masa Majapahit, terutama pada gaya bangunan candi-candi kala itu dan cerita di balik relief. Indeksnya sangat lengkap dan amat membantu memudahkan pencarian informasi.


indeks buku "A-K"

Indeks buku "K-Z"
Read More
      edit

Selasa, 18 Juni 2013

Ditulis 17.13 oleh with 0 comment

Memori dan Imajinasi Nusantara


cerita silat

Judul buku               : Memori dan Imajinasi Nusantara
Editor                      : Seno Joko Suyono, Wicaksono Adi, Dorothea Rosa Herliany, Imam Muhtarom

Penerbit                    : Samana Foundation, Magelang
Tahun terbit               : 2012
Jumlah halaman          : 374
Desain cover             : Left Studio

Harga beli                  : Rp. 50.000,-
Beli di                        : Borobudur, Magelang
Tanggal beli                : 29 Oktober 2012
Nilai                           : 4 dari 5

Buku ini adalah kompilasi materi dari para pengisi seminar di "Musyawarah Agung Cerita Silat & Sejarah Nusantara" sebagai bagian dari acara tahunan Borobudur Writers Cultural Festival, waktu itu tahun 2012, dari tanggal 28 hingga 31 Oktober 2012 di Yogyakarta dan Borobudur, Magelang. Sebuah acara yang berangkat dari fenomena cerita silat (baca: sejarah) beberapa tahun belakangan. Memang acaranya sendiri terkesan eksklusif untuk penulis undangan, tapi sebenarnya terbuka untuk umum. Aku juga turut hadir di hari pertama (29 Oktober) dan mengikuti pembukaan serta dua sesi seminar/diskusi pagi dan siang yang diisi oleh di antaranya Arswendo Atmowilto, Agus Aris Munandar, dan Langit Kresna Hariadi.


Aku memang butuh data untuk penelitian Tugas Akhir ku yang berkaitan dengan fenomena cerita silat akhir-akhir ini. Sebuah seminar yang sangat seru dan menarik. Sebuah buku yang berisi ilmu dan pandangan masing-masing penulis mengenai pengalaman mereka dan penemuan mereka terkait bagian sejarah yang masih gelap.


Pada akhirnya buku ini teruntuk bagi pecinta sejarah Nusantara dan penggemar novel sejarah.


Lihat daftar isi berikut untuk mengetahui siapa saja pemateri pada ajang tersebut.

Read More
      edit