Rabu, 21 November 2018

Ditulis 16.42 oleh with 0 comment

Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal



Judul buku                : Dari Seorang Budak Belian Aku Jadi Pengusaha Kapal
Penulis                      : Dj. Hasugian

Penerbit                    : CV Rosda Karya Bandung
Tahun terbit              : 1982 (cetakan pertama: 1981)
Jumlah halaman       : 58
Ilustrasi                    : Asmadi

Nilai                          : 3 dari 5




Buku cerita ini sebetulnya punya liku kisah menarik. Hanya saja gaya penyampaiannya agak tipikal buku anak-anak masa itu (1980-1990-an) yang memang menjadi target pembacanya (salah satunya aku ketika masih kecil). Gaya bercerita yang kumaksud adalah dengan menempatkan pembaca sebagai pengamat/penonton atas tokoh utama sebenarnya yang dijadikan suri-tauladan.

Tokoh yang mulanya diperkenalkan kepada pembaca adalah Kamal, seorang anak berprestasi tinggi. Catatan: Kamal adalah kita, di mana kita diharapkan mengidentifikasikan diri dengannya agar hendaknya kita berprestasi juga (?). Itulah sebabnya Kamal dijanjikan oleh ayahnya diantar ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan teman ayahnya yang luar biasa sukses, Pak Gono agar dia (baca:kita) bisa mendengar kisah suksesnya.

Pada pertemuan Kamal dengan Pak Gono inilah terjadi peralihan tokoh utama dari Kamal ke Gono muda. Layaknya perpindahan lari estafet kepada pelari yang lebih jago daripada pelari sebelumnya, kisah Pak Gono semasa muda menderu seru kaya petualangan tidak seperti Kamal yang super-bland, kaku, dan tidak menarik.

Pola cerita dengan model semacam ini mungkin hanya akrab buat anak-anak yang tumbuh di masa 1980-1990-an. Sebagian buku cerita yang kuulas di blog ini juga punya pola serupa. Pembaca harus selalu menengadahkan kepala memandang kagum ketika orang yang ada di atas itu memberimu wejangan. Iya, aku sedang menudingmu Mbah Harto!

Diangkat dari kisah nyata Gono Tirtowidjojo, seorang pengusaha ekspedisi kapal, yang belakangan aku baru tahu kisahnya pernah difilmkan dengan judul Mustika Ibu dan dibintangi Dedy Sutomo, buku ini berfokus pada hardship-nya Gono muda. Perjuangan penuh derita Gono diceritakan cepat tanpa basa-basi jika tidak mau dibilang terburu-buru, mulai dari dibuang keluarganya, merantau ke berbagai kota, bergonta-ganti profesi, ikut perang kemerdekaan, sampai dia sukses menjadi pengusaha.

Gono adalah seorang putra Sunda asli yang dipungut keluarga Cina (maksudnya Tionghoa). Ibu kandungnya yang miskin menjual Gono ketika masih bayi karena tidak kuat merawatnya.

Hidup sebagai anak pungut membuat Gono menderita lahir batin akibat siksaan orang tua angkat. Dari seorang tukang bajigur Gono mengetahui mengenai ibu kandungnya. Dia pun menemui ibu kandungnya lalu bertekad merantau ke Batavia untuk merubah nasib, pergi dari keluarga yang telah membesarkannya.

Di Batavia dia kerja serabutan dan hidup menggelandang. Sesudah bekerja menjadi kuli panggul beberapa saat. Dia diajak bekerja di sebuah toko di Lampung oleh seorang pedagang tembakau.

Sewaktu Perang Aisa Timur Raya pecah, Jepang memasuki Indonesia menggantikan Belanda. Jepang merekrut banyak tenaga untuk keperluan perang. Salah satunya Gono yang bekerja pada dinas pelayaran Jepang di mana karirnya melejit cepat.

Menyerahnya Jepang dalam perang membuat Belanda kembali ke Indonesia. Dengan keahlian nahkodanya Gono menjadi seorang penyelundup senjata bagi para pejuang kemerdekaan. Dia lalu bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat sampai dalam sebuah pertempuran dia tertangkap dan disiksa oleh Belanda supaya mau memberitahukan posisi TKR, namun Gono tetap bertahan.

Pada suatu waktu Gono berhasil meloloskan diri. Akibat siksaan yang dialaminya Gono menderita sakit yang membuatnya tidak bisa ikut berjuang lagi hingga perang usai. Selepas perang Gono memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang perkapalan untuk membangun usaha ekspedisi kapal muatan. Usahanya maju mengalami pasang surut.

Suatu hari dia ditawari untuk membeli sebuah kapal yang terbenam di dasar laut Surabaya. Yang mengejutkan Gono adalah nama kapal itu sama dengan nama kapal yang dilihat di mimpinya: Kota Silat. Percaya bahwa ini suatu pertanda, dia membeli dan memperbaiki kapal itu. Dan pada pelayaran pertamanya menuju Jakarta dia sendiri yang menjadi nahkodanya.

Kapal pertamanya tersebut membawa keberuntungan. Dari satu kapal kini Gono memiliki 12 kapal lain. Usahanya sukses, dia kaya raya, dan menerima penghargaan dari gubernur Jakarta dan presiden. Cerita ditutup dengan Kamal yang bangun keesokan harinya bersiap untuk melihat dok kapal Pak Gono.

Cukup mengasyikkan ya kisahnya. Sayangnya ya itu terasa disingkat-singkat. Memang sih kisah sukses di atas memang sangat klise, klasik, dan serba sudah diduga. Tipikal cerita “sengsara membawa nikmat.” Model cerita yang ngetren kala itu, tidak seperti sinetron sekarang yang serba hedonisme. Kenapa? Gak tau ya. Mungkin karena rata-rata rakyat Indonesia ketika itu memang hidup kekurangan (kayak sekarang enggak aja).

Kalau ada yang menarik bagiku adalah upaya si narator kisah (yaitu Pak Gono) mengelak/menampik/menyangkal ke-Tionghoa-annya. Entah memang Gono sendiri yang menuturkan kepada penulis (Dj Hasugian) bahwa dia bukan Tionghoa atau adakah masyarakat saat itu diam-diam anti Tionghoa?

Read More
      edit

Rabu, 07 November 2018

Ditulis 20.00 oleh with 0 comment

Husein Pahlawan dan Syahid Besar



Judul buku                : Husein, Pahlawan dan Syahid Besar
Penulis                      : Saduran Nawawi Rambe dari Husain The Great Martyr (Fazl Ahmad)

Penerbit                    : Depdikbud, PT Bumi Restu (Percetakan)
Tahun terbit              : 1985 (cetakan pertama: 1982)
Jumlah halaman       : 70
Desain cover            : Wiajaya

Nilai                          : 3 dari 5


Buatku cukup aneh juga ketika hari ini kaum Syiah terus dianggap sesat dan disudutkan oleh mayoritas penganut Islam Sunni tanpa kecuali di Indonesia, namun melupakan kenyataan bahwa pernah terbit buku cerita buah proyek pengadaan buku Depdikbud di mana ia mengisahkan betapa heroiknya kematian Husein bin Ali bin Abu Thalib.

Husein memang cucu nabi Muhammad—tokoh yang dihormati kalangan Sunni—tapi dia juga imam Syiah yang berperan penting dalam haluan teologi Syiah. Aliran Islam yang dicap sesat oleh sebagian penganut Sunni. Mungkin karena khawatir akan ke-syiah-an tersebut. Terdapat upaya tersurat untuk lebih menghubung-hubungkan perjuangan Husein dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia (via jalur militer?) di bagian prakata.

“Kerelaan Husein mengorbankan segala-galanya, telah mengangkat martabatnya sebagai pribadi yang luhur, sebagai teladan dan lambang kebenaran dalam perjuangan abadi melawan kezaliman…tokoh-tokoh pejuang demikian ini banyak pula terdapat di persada tanah air kita, terutama pada masa puncak perjuangan merebut kemerdekaan Negara Indonesia tercinta.”

Kurasa buku ini dibeginikan karena posisinya yang tak lain adalah saduran dari buku lain berjudul Husain The Great Martyr karya Fazl Ahmad yang kita—aku tidak tahu seperti apa isinya. Sehingga ketokohan Husein di buku ini barangkali direduksi oleh penyadur/penulis Nawawi Rambe ke dalam bingkai perjuangannya atas suatu cita-cita yang “setara” dengan perjuangan rakyat Indonesia dan karenanya layak menjadi teladan generasi muda Islam di masa pembangunan (soal pembangunan ini disebut pada prakata).

Tapi jika ada satu yang memikat dari buku ini bagi pembaca kiranya adalah universalitas nilai heroisme, terlepas dari dia itu golongan Sunni atau Syiah. Kita jelas melihat betapa kesyahidan (kemartiran) seseorang  dirayakan melintasi latar sejarah, budaya, bangsa, negara, dan agama.

Alur buku cerita ini persis sama dengan narasi umum pertempuran di Karbala (battle of Karbala) yang bermula dari permusuhan antara pendukung Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan terkait kebijakan khalifah Usman bin Affan yang dinilai oleh Ali terlalu bersifat kekeluargaan.

Naiknya Yazid sebagai khalifah menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam. Selain karena statusnya yang adalah putra Muawiyah (khalifah sesudah Hasan bin Ali mengundurkan diri), watak Yazid yang gemar berfoya-foya menjadi pangkal penyebabnya. Ketika Yazid menuntut sumpah setia Husein kepadanya, Husein menolak dan melarikan diri ke Mekkah.

Dukungan dari penduduk Kufah (Irak) agar Husein menjatuhkan Yazid mengalir deras. Husein beserta pengikutnya pun berangkat ke Kufah dari Mekkah meski mendapat tentangan dari sahabat-sahabatnya. Mendengar ini gubernur Ibnu Ziad menyiapkan pasukan untuk menghadang rombongan Husein.

Di padang Karbala, pergerakan rombongan Husein ditahan oleh pasukan Al-Hurr. Mereka tidak diizinkan melanjutkan maupun kembali ke Mekkah. Perundingan yang ditawarkan Husein dengan diperantarai Umar bin Saad ditolak Ibnu Ziad. Umar bin Saad yang diperintahkan menggempur rombongan Husein menawarkan agar Husein menyerah tanpa syarat. Husein meminta waktu hingga keesokan harinya.

Malam itu Husein menyampaikan kepada pengikutnya bahwa mereka boleh pulang demi menghindari peperangan yang tak terelakkan. Tidak satupun dari mereka mundur. Mereka lalu menghabiskan malam dengan berdoa bersiap untuk esok hari.

Tepat pagi hari 10 Muharram pertempuran sengit pecah. Pasukan Al-Hurr yang semula berada di pihak Ibnu Ziad menyebrang ke pihak Husein. Husein dan pengikutnya yang kalah jumlah bisa memberi perlawanan gigih hingga tengah hari di mana mereka semua pada akhirnya gugur.

Tragedi ini memicu serangkaian peristiwa saling balas antara kedua pendukung masing-masing pihak. Disebutkan secara ringkas bahwa Khalifah Yazid meninggal dalam keadaan depresi, Umar bin Saad tewas dibunuh, Syimar yang menamatkan Husein mati mengenaskan, Gubernur Ibnu Ziad mati dipenggal. Sementara nama Husein abadi sebagai pahlawan.
Read More
      edit

Minggu, 04 November 2018

Ditulis 20.52 oleh with 0 comment

Aku Diterjunkan di Irian Jaya


Judul buku                : Aku Diterjunkan di Irian Jaya
Penulis                      : A Soeroto

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1974
Jumlah halaman       : 52
Gambar oleh             : C.Z. Dupe

Nilai                          : 3 dari 5

Buku ini lagi-lagi seperti sejumlah postingan di blog ini adalah bacaan dari masa kecilku. Jumlah halamannya hanya 50-an. Paslah untuk anak-anak yang baru mulai keranjingan membaca. Lagipula alur ceritanya mudah dipahami, liniear, cukup seru dan menegangkan buatku ketika itu. Meski sebenarnya kalau dibaca lagi sekarang cerita dalam buku ini boleh dibilang terlalu sederhana dan minim detail.

Mengisahkan mengenai pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Kita dibawa menyimak langsung pengalaman dari sudut pandang si “aku,” seorang prajurit muda bernama Gus (Agus?), dengan gaya penyampaian mirip diari atau jurnal perang.

Cerita diawali dari Gus dan kawannya sesama prajurit yang dipersiapkan di sebuah lokasi di dekat kota Ambon untuk dikirim ke Irian Barat (begitulah penyebutannya, bukan Papua) guna berkonfrontasi lawan Belanda. Suatu malam mereka diberangkatkan dengan menumpangi pesawat Hercules di atas langit Irian. Dalam gelap semua prajurit diterjun-payungkan. Sialnya beberapa kawan mereka ditembaki Belanda dari bawah.

Gus mendarat dengan selamat, namun dia pingsan. Payung Gus ternyata menyangkut di sebuah pohon yang sangat tinggi. Setelah berhasil turun dia menyusuri pekatnya hutan ke arah utara sesuai perintah atasannya. Dia pun bertemu dengan kawan-kawannya. Mereka sepakat untuk tidak meneruskan ke utara, melainkan ke arah pantai.


Pihak Belanda menjadi musuh yang hadir tanpa wajah
Sempat lolos dari sergapan pasukan Belanda, mereka terus menembus hutan hingga berhari-hari. Letih, kehabisan bekal dan amunisi mereka secara kebetulan menjumpai penduduk lokal dan memintanya menunjukkan jalan perkampungannya.

Di perkampungan itu mereka berjumpa dengan kawan-kawan prajurit yang telah lebih dahulu bernaung di sana. Mereka semua diterima dengan baik oleh penduduk kampung. Hingga kemudian memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke pantai.

Dengan dipandu salah seorang penduduk para prajurit itu menuju pantai. Belum jauh mereka segera menemukan selebaran yang menerakan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda serta akan adanya penyerahan Irian asalkan memang rakyat Irian sendiri yang memintanya (refenrendum?).

Awalnya mereka curiga bahwa selebaran ini hanya tipuan Belanda. Tetapi setelah salah seorang dari mereka mencari kabar ke Kaimana terbukti bahwa edaran tersebut memang benar adanya. Mereka semua pun gembira dengan kemenangan ini dan bersiap meninggalkan Irian. Sudah begitu saja. Cerita berakhir di sini. Cukup sederhana kan?

Namun, justru di situlah yang menarik. Buku ini sama sekali absen dari intrik politik dibalik upaya merebut Irian Barat. Bahkan abai pada dimensi kepentingan yang lebih besar, siapa inisiator (Soekarno), siapa komandannya (Soeharto), apa kepentingan misi ini.


Penduduk Irian digambarkan sangat terbelakang. Yang meski ramah dan hangat membuat para prajurit tidak betah berlama-lama menetap di kampung mereka

Karakter si tokoh utama, Gus, terasa sangat naif dan lugu. Gus dan kawan-kawan sesama prajurit di cerita ini tampak tidak tahu apa yang mereka harus perbuat (no idea, no clue istilahnya), atau apa sebenarnya misi mereka. Di dalam buku hanya diindikasikan bahwa mereka di situ hanya untuk membuat pihak Belanda cemas.

Adakah kenaifan tersebut disengaja oleh penulis karena buku ini ditujukan untuk anak-anak? Mungkin saja kurasa.

Bagiku sungguh menggelitik karena petualangan yang dialami Gus dan kawan-kawannya sangat jauh dari heroisme ideal atau patriotisme berapi-api bela negeri. Gus dan kawan-kawannya tampak sangat manusiawi: mereka merasakan keraguan, kebingungan, dan ketakutan menghadapai dua musuh sekaligus: hutan rimba dan Belanda yang mengintai dari kerimbunan. Pendeknya, buku ini adalah cerita kecil mengenai prajurit kecil di tengah masalah besar.

Jika apa yang ada di dalam cerita ini adalah gambaran akurat dan otentik mengenai peristiwa di Irian (Papua) yang sebenarnya. Maka buku ini perlu menjadi dokumen sejarah alternatif untuk  menyibak apa sebenarnya yang terjadi ketika itu di mata prajurit berpangkat rendah. Bahwa peristiwa sejarah dan militeristik nyatanya bukan soal patriotisme semata tapi juga bagaimana menjadi manusia biasa.
Read More
      edit