Rabu, 17 April 2019

Ditulis 13.10 oleh with 0 comment

Pemimpin Kuat dan Amanah


Kenang-kenangan Pemilu 2014. Buku saku dari MUI. Pada pengantarnya menyebut bahwa MUI prihatin pada 1) kemungkinan tingginya golput 2) kemungkinan terganggunya kerukunan 3) kemungkinan terjadinya konflik.

Maka dari itu 1) jangan saling merendahkan 2) jangan saling mengejek 3) jangan saling memberi nama yg tidak baik 4) jangan saling mencari kesalahan 5) jangan saling berprasangka buruk 6) jangan saling menggunjing.

Kriteria memilih pemimpin adalah kuat & amanah. Kuat sebagai panglima perang & penegak hukum. Amanah dipahami takut kpd Allah & tidak memperjualbelikan ayat Allah. Sayangnya kuat & amanah jarang ada dalam satu orang. Jadi perlu skala prioritas.

Untuk kasus perang, orang fasik tapi kuat lebih baik daripada orang soleh tapi lemah. Orang fasik yg kuat menguntungkan umat, karena kefasikannya hanya merugikan diri sendiri. Orang soleh yg lemah, kesolehannya hanya untuk diri sendiri, kelemahannya merugikan umat. Meski begitu diutamakan memilih yg lebih bermanfaat untuk jabatan itu.

Aspek kekuatan: lihat pengalamannya, visi misi, & ketika berhadapan dgn kepentingan asing. Aspek amanah: lihat mana yg lebih aspiratif terhadap umat & konsistensi terhadap janjinya. Jika sama jeleknya pilih yg paling sedikit jeleknya.

Ini adalah kriteria mencerahkan yg akan ku gunakan untuk menentukan ayam mana yg akan kubeleh & ayam mana yg akan kupertahankan. Gak ada hubungannya sama pilpres.
Read More
      edit

Rabu, 20 Februari 2019

Ditulis 14.19 oleh with 0 comment

Mbis


Judul buku                : Mbis
Penulis                      : M. Nasin, S.Pd.

Penerbit                    : Sahala Adidayatama, Jakarta
Tahun terbit              : 2003
Jumlah halaman       : 80
ISBN                        :  9789792440010

Ilustrator                   : Jehezkiel
Desain sampul          : Adi Muhammad Gumilar

Beli di                       : Social Agency Jl. Kaliurang Yogyakarta
Harga beli                 : Rp. 5000,-
Nilai                          : 4 dari 5


Sebagai naskah yang memenangkan sayembara penulisan bacaan Depdiknas (2003) agak mengherankan bagaimana buku ini ‘hanya’ nangkring di penerbit kecil yang relatif tidak terkenal. Setidaknya buku model begini hadir dari Balai Pustaka atau Grasindo tapi nyatanya tidak.

Walau begitu aku bisa mengerti mengapa buku ini dipilih jadi pemenang. Alur ceritanya menarik nan seru, dan punya potensi menjadi tulisan yang lebih koheren dan lebih panjang di tangan penulis yang lebih terampil mengolah ide cerita, atau malah dialih-mediakan menjadi film anak-anak. Kurasa kalau aku masih kanak-kanak buku ini akan menjadi favoritku. Sungguh!

Sinopsis cerita adalah sebagai berikut. Perhatian! Alur kisah cukup panjaaang.

Kita mengikuti petualangan dari sudut pandang Taufik, seorang bocah (remaja?) asal pulau Jawa yang berada di tengah perang antar sesama suku Asmat. Ayah Taufik yang adalah anggota MER-C mengirim Taufik ke Timika untuk bertemu pamannya yang anggota TNI AU. Namun kapal yang membawanya dari Elat kandas dihantam badai. Dua orang suku Asmat menyelamatkannya, mereka membawanya ke kampung Agats. Di sana dia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Kelly yang dulunya pernah berkuliah di Bandung (IAIN Gunung Jati) sehingga dia bisa berbahasa Indonesia. Karena lokasi Timika jauh dari Agats, Taufik diminta menetap untuk sementara sampai Kelly bisa mengantarnya ke sana.

Orang Agats tengah berkonflik dengan orang Syuru yang juga sama-sama suku Asmat. Keadaan sedang sulit, sumber makanan langka tanpa diketahui penyebabnya sehingga wilayah berburu dan berladang saling dijaga ketat. Tersiarnya desas-desus bahwa seorang pemuda Agats mbeter (melarikan) gadis Syuru memperparah situasi. Suatu hari ketika tengah asyik berlatih memanah, Taufik dan seorang bocah Agats ditangkap orang Syuru karena dianggap melanggar batas wilayah. Tampak di sisi Kepala Suku Syuru seorang lelaki bule bernama Godart yang jelas-jelas menghasut orang Syuru agar mengayau (memenggal kepala dan memakan) dua bocah itu. Usulan itu tidak saling disepakati antar mereka.

Hugeis, pemuda Syuru yang juga kawan baik Kelly membebaskan kedua bocah tersebut dan mengantar mereka kembali ke Agats. Rombongan itu dikejar, Hugeis kena tembak senjata api dan diperkirakan mati. Kembali ke kampung Agats, kakek dari Kelly dan Opit meninggal mendadak. Timbul kecurigaan dari kalangan orang Agats bahwa kematian Si Kakek akibat ilmu hitam kiriman orang Syuru.

Di kalangan orang Agats timbul pendapat agar mereka berperang melawan orang Syuru sedangkan sebagian lain menolaknya. Seorang tetua Agats, Pak Amarok mencegah suasana panas itu dengan menceritakan legenda Fumiripits yang membuat patung-patung Mbis dan menghidupkannya sehingga terciptalah suku Asmat, termasuk di antaranya menjadi orang Agats dan Syuru, sehingga pertumpahan darah sesama saudara tidak bisa dibenarkan. Mereka pun urung mempersiapkan perang.
Mendengar bahwa orang Syuru akan melaksanakan upacara perahu yang biasanya dilakukan untuk menyambut perang, orang Agats mengutus Kelly dkk. termasuk Taufik untuk mengintai. Sayangnya Kelly dan Taufik tertangkap. Mereka disiksa dan akan dikayau bersamaan dengan rampungnya perahu. Kelly memperingatkan kepala suku Syuru [dan ini sangat penting untuk disimak] bahwa ayah Taufik adalah tentara, dan jika terjadi apa-apa kepadanya kampung ini akan diserbu tentara. Tetapi toh ancaman itu tidak mengendurkan niatan orang Syuru.

Pada hari yang ditentukan, Kelly dan Taufik diikat saling membelakangi pada sebilah patok kayu siap untuk dikayau. Tiba-tiba orang-orang Agats bersama warga kampung lain datang mengepung kampung Syuru demi mencegah tradisi mengayau kembali hidup. Di antara mereka hadir Hugeis yang semula dikira sudah mati. Kepada penduduk kampungnya dia menceritakan bahwa yang menembak dan membuangnya ke sungai adalah orang suruhan Godart, si bule. Jelas sudah semua konflik dan kesalahpahaman ini didalangi oleh Godart. Terdesak, Godart dan anak buahnya melarikan diri ke sungai dengan menaiki perahu.

Selanjutnya Kelly dan Taufik mengungkap motif adu domba yang dilakukan Godart selama ini. Rupanya dia menaruh dendam kepada orang Agats karena kakek buyutnya dulu dibunuh oleh buyut Pak Amarok, tetua kampung Agats. Mereka menemukan bukti bahwa Godart sengaja mematikan pohon-pohon sagu dan ubi jalar sehingga orang Syuru kesulitan mencari bahan makanan. Dari situlah Godart masuk membawakan bahan makanan, menyebar isu mengenai mbeter yang dilakukan pemuda Agats, dan memengaruhi orang Syuru agar berperang dengan orang Agats.

Keterlibatan militer yang menjadi deux ex machina, persenjataan modern hanya bisa dilawan yang modern juga

Seluruh warga kampung yang tadinya berseteru sepakat menghelat upacara Mbis untuk mengikat persahabatan antara keduanya. Saat tengah larut dalam kegembiraan itu Godart dan anak buahnya menyerbu dengan senjata api. Kelly tertembak karena berupaya melindungi Pak Amarok. Di luar dugaan tentara AU yang dipimpin paman Taufik muncul dengan helikopter (kedatangan mereka sebenarnya adalah untuk menjemput Taufik) mengejar komplotan Godart yang melarikan diri di atas perahu. Namun karena panik perahu Godart terbalik dan tidak satu pun dari mereka yang selamat.
Kelly yang terluka dibawa serta ke Timika untuk mendapat perawatan, Taufik turut serta dan akhirnya bertemu dengan ayah ibunya. Seminggu kemudian mereka mengantar Kelly kembali ke Agats di mana dia diangkat menjadi anak angkat Pak Amarok dan Hugeis menjadi kepala kampung Syuru.

Cukup seru bukan?

Jalinan cerita di atas tak ayal menyisakan jejak khas karya antropologi (atau secara khusus, etnografi) dengan aroma detektif cilik, lengkap dengan prasangka awal penulisnya terhadap orang Papua yang merasuk dalam tokoh Taufik. Tokoh utama menjadi pengamat yang kadang terlibat namun seringnya sudah punya pengetahuan khusus terhadap subjek orang Papua, dia kerap terkejut-kejut tapi tenang di saat bersamaan terhadap adat suku Asmat. Mirip seperti buku Orang Iban karangan Kissumi Dwiyananingsih, di mana cerita disajikan bak pengamatan atas pengalaman: tokoh utama adalah orang luar yang kadang mendapat penjelasan atas apa ini-apa itu dan apa yang terjadi. Tak jarang interaksi tokoh utama dengan tokoh lain berlangsung bak wawancara, sehingga terasa janggal. Misalnya, Taufik bertanya “bivak itu apa?”, yang dijawab oleh Kelly, “bivak itu rumah asli orang Asmat yang berada di tengah hutan…” keterangan lanjutan Kelly ini cukup panjang dan runut yang disampaikan dalam satu kalimat.

Pada bagian lain dalam buku, Taufik banyak bertanya mengenai adat istiadat yang berkaitan dengan kematian sementara Kelly menjawabnya dengan taktis nan tangkas. Bagian ini sangat terasa tidak punya hubungan langsung dengan alur cerita dan konflik di dalamnya, hanya semata ingin menjelaskan kepada pembaca mengenai budaya orang Asmat yang barangkali aneh nan eksotik bagi orang luar seperti Taufik, atau…memamerkan bahwa penulis benar-benar melakukan penelitian lapangan sebelum menulis.

Di sinilah titik yang buatku menggangu karena penulis terlampau asyik mendeskripsikan apa yang terjadi seolah tanpa melibatkan si tokoh secara pribadi atau jikalau begitu pun terasa dipaksakan dan jadi tidak masuk akal. Masa iya, di saat nyawa terancam akan dikayau masih sempat-sempatnya Taufik memaparkan detail tradisi upacara perahu yang dilakukan orang Syuru, pilihan kayunya lah, teknik lah, dan cat yang dipakai untuk mewarnai. Ujungnya, tokoh-tokoh di dalam cerita hanya menjadi sarana untuk menjelaskan apa yang pernah dilihat atau diketahui penulisnya.

Satu hal menarik lagi, tokoh Kelly yang punya latar pendidikan di pulau Jawa bercita-cita membuat tanah Papua jadi lebih berperadaban. Dia menganjurkan cara bertanam modern kepada kaumnya yang dipelajari dari orang Jawa, dia ingin adat menunggui orang sekarat diganti dengan berobat saja sampai sembuh, dan dia ingin pula menghilangkan adat papis (tukar istri). Semua ini tentunya cita-cita mulia…yang dipandang dari sudut orang luar Papua dan ancaman bagi keberlangsungan adat suku Asmat. Tuduhan bias budaya yang menganggap orang Jawa lebih modern, sementara orang Papua lebih primitif dapat saja dialamatkan terhadap buku ini. Namun apakah benar seperti itu? Perlu penelaahan lebih lanjut.
Read More
      edit

Senin, 24 Desember 2018

Ditulis 10.00 oleh with 0 comment

Affandi Pelukis


Judul buku                : Affandi Pelukis
Penulis                      : Nasjah Djamin

Penerbit                    : Aqua Press Bandung
Tahun terbit              : 1979 (cetakan pertama: 1977)
Jumlah halaman       : 84

Nilai                          : 3 dari 5

Satu lagi buku yang masuk kategori “buku cerita” hasil proyek Depdikbud zaman Soeharto. Aku sebutkan di awal karena diam-diam out of nowhere buku ini menjejalkan pujian kepada Soeharto, presiden ketika itu, pada pertengahan buku di saat membicarakan Affandi. 

“Anak desa pun dapat jadi orang, asal rajin dan tekun belajar. Anak desa pun kelak dapat menjadi Menteri, jadi Jenderal, malah jadi Presiden. Seperti halnya Pak Harto, Presiden Negara Republik Indonesia kita yang sekarang!” (Djamin, 1979:44).

Dan, lagi-lagi tipe karangan buku ini persis seperti buku cerita lain yang sudah kuulas sebelumnya di blog ini: Ada sub-plot tokoh utama abal-abal dibangun menuju tokoh utama sebenarnya, dalam hal ini Affandi, namun sub-plot ini posisinya kurang penting walau bukannya tidak relevan atau tidak relatable. Karena setidaknya tokoh sub-plot ini punya latar dan kepribadian.

Pada mulanya kita diperkenalkan kepada seorang anak petani yang masih duduk di kelas 6 SD bernama Agus. Dia tinggal di desa Besi (baca: mbesi) di sekitaran Jalan Kaliurang Yogyakarta. Bakat menggambarnya mengagumkan sehingga suatu kali gurunya memujinya bahwa dia bisa seterkenal Affandi sang pelukis. Dari situ rasa penasaran dan kagum Agus kepada Affandi tumbuh.

Suatu hari pamannya (yang tanpa nama) datang, dia mengajak Agus berkunjung ke Museum Affandi berboncengan naik sepeda motor butut. Setidaknya kita mendapat gambaran seperti apa suasana Jogja akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an (buku ini pertama kali terbit 1977) yang terasa sangat syahdu: kala itu penduduk desa naik cikar (gerobak sapi) ke kota untuk plesiran, jika tidak ya naik bus atau colt yang mulai banyak mondar-mandir dari Yogyakarta-Kaliurang (Djamin, 1979:19). Pemandangan yang sudah lenyap hari ini.

Tapi sayang eh sayang museumnya sedang tutup karena Pak Affandi sedang pergi melukis di Bali. Tuh kan sub-plotnya bertele-tele. Kunjungan dibatalkan, mereka kemudian berbelok ke kos-kosan (disebut pondokan) si Paman dan bertemu dengan [Jeng] Juminten, teman (pacar?) Si Paman. Dia adalah seorang pengarang amatir yang secara kebetulan sedang menulis tentang Affandi. Draf tulisan berjudul “Pelukis Besar Affandi” ini kemudian dibaca oleh Agus (alias kita) dan baru muncul di halaman 33 (hingga 78) dari total 84 halaman!

Membaca draf tulisan Juminten bagai membaca biografi a la Wikipedia. Ringkas, padat, dan seolah tidak ada penyuntingan atas tata kalimat, bahkan urutan peristiwanya meloncat-loncat. Sehingga terbitlah kecurigaanku bahwa draf tulisan ini memang tulisannya ‘Juminten’ sungguhan (maksudnya Juminten benar-benar ada). Mungkin dia temannya Djamin, penulis buku ini.

Inti cerita kurang lebih berkutat pada kerasnya hidup yang dijalani Affandi hingga sukses dikenal sebagai pelukis tetapi tetap bersahaja. Kita diperkenalkan pada masa kecil Affandi yang sudah hobi menggambar. Ayah dan saudara-saudaranya memang menentang hasrat melukis Affandi tersebut, namun dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa menghidupi diri, anak, dan istrinya dari hasil melukis setahap demi setahap. Mulanya tentu tidak mudah, sekolah sengaja dia tinggalkan, pekerjaannya pun serabutan, mulai dari guru, tukang cat, penggambar poster reklame, sampai penjaga pintu bioskop sambil terus melukis meskipun tidak kunjung laku.

Keinginannya untuk belajar melukis di sekolah khusus gambar tidak pernah kesampaian. Sempat dia ingin berguru kepada Basuki Abdullah tetapi pelukis terkenal itu tidak berkenan. Affandi kemudian bergabung di Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang terdiri dari pelukis-pelukis yang tidak diakui oleh Belanda karena mereka hanya pelukis otodidak.

Di masa pendudukan Jepang, Affandi bergabung dengan PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) lalu ikut pula dalam SIM (Seniman Muda Indonesia). Di sana dia mulai melukis keadaan rakyat yang melarat dan menderita: romusha yang tubuhnya kurus kering, gelandangan, kuda andong yang kurus, pedagang pasar yang dekil. Dia juga maju ke medan perang untuk melukis suasana pertempuran.

Ketika agresi militer Belanda pecah, Affandi sekeluarga mengungsi ke Jakarta. Di kota yang diduduki Belanda dia tinggal di sebuah garasi di Perguruan Taman Siswa, satu dari wilayah RI di Jakarta selain Gedung Proklamasi (data sejarah bung! RI masih punya wilayah di tengah kekuasaan Belanda). Di situlah dia berjumpa dan melukis Chairil Anwar.

Sesudah kemerdekaan Affandi mendapat beasiswa di sebuah sekolah seni di India. Begitu sampai pihak kampus menilai bahwa kemampuan Affandi sudah sempurna sehingga tidak perlu sekolah lagi. Dia memutuskan untuk berkeliling kota-kota India lanjut ke Eropa sambil terus melukis. Dari sini namanya mulai dikenal publik.

Sekembalinya ke Indonesia, dia ditawari mengajar di ASRI Yogyakarta dan berpameran di Jepang, Brasil, Meksiko, dan Amerika. Di negara yang disebut terakhir ini dia sempat menjadi profesor di Ohio State University. Dari hasil menjual lukisannya dia membangun Museum Affandi di tepi kali Gajahwong. Seperti tema yang senantiasa berulang: kesusahan, keterlunta-luntaan, dan kehinaan yang dialami tokoh utama pun berbuah manis. SELESAI.

Seusai membaca draf tulisan Jum, Si Agus bertandang ke Museum Affandi dan menyimak deskripsi beberapa lukisan via mulut pamannya dan Mbak Jum. Tentu tidak lupa untuk bertemu langsung dengan idolanya tersebut dan mendapat wejangan: “Yang rajin belajar seperti kakek ini. Sudah tua masih belajar, dan ingin belajar terus!”

halaman terakhir yang berisi pesan Affandi kepada kita
Iya, iya. Agus harus rajin belajar sampai tua. KITA pun harus terus belajar sampai tua.
Read More
      edit