Jumat, 14 Agustus 2015

Ditulis 05.37 oleh with 0 comment

Bunga Mawar

Bagindo Saleh

Judul buku                : Bunga Mawar
Penulis                      : Bagindo Saleh
ISBN                        : -

Penerbit                    : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun terbit              : 1977-cetakan kesembilan (cetakan pertama tahun 1939)
Jumlah halaman         : 67
Desain cover             : Bahar

Harga beli                 : -
Nilai                          : 4 dari 5

Buku kumcerpen ini berisi 5 dongeng yang kaya akan kisah fantasi. Membacanya serasa di bawa ke sebuah petualangan berlatar masa lalu di kala keajaiban-keajaiban tidak masuk nalar masih mungkin terjadi di alam nyata. Keajaiban itu tampak dari hewan-hewan yang bisa berbicara dan berinteraksi dengan manusia di “Rumah Kecil dalam Hutan” dan “Tikus Siluman,” bahkan yang sudah mati sekalipun seperti dalam dongeng “Gadis Gembala Angsa.” Di dongeng ini manusia juga dapat berinteraksi dengan alam sekitar dengan memanggil angin untuk bertiup sekencangnya.

Tikus Siluman
Bagindo Saleh
Gadis Gembala Angsa
Seperti kebanyakan dongeng yang selalu punya pesan moral. Maka kisah-kisah di buku ini hendak menegaskan agar seorang tidak melihat penampilan (sisi luar) belaka tanpa mengenali lebih jauh. Sebab penampilan luar (pakaian dan tampang) bisa sangat menipu. Pesan ini merasuk dalam genre khusus yang jika boleh aku kategorikan maka kumpulan dongeng ini masuk kategori cerita-cerita tentang “Princess” seperti yang umum diadaptasi oleh Disney ke film animasinya: Tuan Putri nan cantik berjodoh dengan Sang Pangeran nan tampan. Yap, memang agak membosankan pesannya, tapi jika kamu masih kecil maka cerita model ini sungguh sangat enak dibaca.

Tampaknya dongeng-dongeng dalam buku ini adalah saduran (akibatnya kita jadi tidak tahu asal dongengnya), seperti yang tertulis pada halaman Pendahuluan:

“Buku Bunga Mawar ini, tersusun dari beberapa cerita yang dipilih dari buku “Sprookjes van Grim dan Sprookjes Vertelingen van Hichtum” yaitu dongeng barat yang amat populer. Tetapi persamaannya hanya maksudnya saja. Sebab dongeng baru, lagi disampaikan dengan alam pikiran anak-anak Indonesia. Sungguhpun demikian taklah mengurangi tamsil ibarat baik yang terkandung di dalamnya.”

Bentuk-bentuk saduran ini menjadikan cerpen-cerpen hadir unik, unik karena berasa ada campurannya. Dalam cerpen “Rumah Kecil dalam Hutan” ada seorang pangeran yang dikutuk oleh Betara Guru menjadi seorang tua berjanggut panjang, meskipun jelas ia bukan cerita wayang dan lebih seperti cerita dari Eropa tapi dengan gaya bahasa Melayu. Gaya Eropa ini bahkan bisa langsung kelihatan dari ilustrasi laki-laki berpakaian layaknya Robin Hood pada sampul depannya, Namun menariknya pada ilustrasi di bagian dalam latar lokasi seperti berpindah ke timur tengah dan latar Melayu masa lalu dengan munculnya perempuan berkerudung dan laki-laki bersurban.

Bagindo Saleh
Ilustrasi "Si Kulit Beruang" yang hibrid
      edit

0 komentar:

Posting Komentar